Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Marsuni, Purna PMI Asal Ledokombo Jember: Rela Teraniaya di Negeri Orang demi Anak Kuliah

Sidkin • Rabu, 15 Oktober 2025 | 14:00 WIB
SEMANGAT LAGI: Marsuni (kiri) dan suaminya, Muhtasil, saat mengikuti pelatihan pemberdayaan purna-PMI dari BP2MI Jatim, September lalu. Pasangan asal Ledokombo ini pernah menjadi PMI di Malaysia.
SEMANGAT LAGI: Marsuni (kiri) dan suaminya, Muhtasil, saat mengikuti pelatihan pemberdayaan purna-PMI dari BP2MI Jatim, September lalu. Pasangan asal Ledokombo ini pernah menjadi PMI di Malaysia.

Radar Jember - Wajahnya tampak letih, tapi semangatnya tak pernah padam.

Di balik kisah perjuangannya sebagai pekerja migran, Marsuni menyimpan luka dan tekad yang menggerakkan langkahnya hingga kini.

Demi masa depan anak, ia rela menanggung beban yang bahkan tak semua laki-laki sanggupi.

Sorot matanya menyimpan tekad yang tak mudah patah.

Setelah kegiatan pelatihan pemberdayaan purna-pekerja migran Indonesia, Marsuni duduk berdampingan dengan suami dan anaknya.

Siang itu, kisah perjalanan hidupnya mengalir pelan, penuh luka, perjuangan, dan cinta keluarga.

Di usianya yang 41 tahun, ia bukan hanya seorang ibu dari dua anak.

Tetapi juga saksi hidup getirnya menjadi buruh migran di negeri orang.

“Kalau ingat masa itu, saya masih sakit hati,” ujarnya lirih.

Ia masih remaja ketika pertama kali memutuskan pergi ke luar negeri.

Usianya baru 17 tahun saat berangkat ke Arab Saudi melalui jalur resmi. Alasannya sederhana: tuntutan ekonomi.

Di kampung halamannya di Ledokombo dan Jember, pekerjaan sulit dicari.

Tawaran tetangga yang menjanjikan rumah dan kehidupan lebih baik membuatnya tergoda.

Ia membayar Rp 1,2 juta ke perusahaan penyalur dan mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Tapi kenyataan jauh dari manisnya janji.

“Kalau saya nggak paham omongan majikan, kerudung saya ditarik,” kenangnya, matanya sedikit berkaca-kaca.

Hari-harinya di sana berat. Setiap subuh hingga tengah malam, ia membersihkan rumah dan menjaga anak. Tidak ada waktu istirahat.

Setelah sebulan bekerja dan sempat sakit dua minggu, Marsuni dipulangkan tanpa sepeser gaji pun.

Ia sempat merasa hidupnya buntu: lulusan SMP, tanpa tabungan, dan dengan pengalaman yang menyakitkan.

Demi menyambung hidup, ia bekerja di gudang tembakau dan pabrik rokok di Jember.

“Pulang itu rasanya seperti kosong. Mau kerja susah, tapi harus tetap jalan,” ucapnya.

Beberapa tahun kemudian, Marsuni menikah dengan Muhtasil, lelaki yang juga sempat merantau ke Kalimantan.

Bersama suaminya, ia membuka warung kecil.

Pelan-pelan uang terkumpul. Mereka berhasil membeli rumah, motor, bahkan menebus sawah yang dulu digadaikan untuk biaya berangkat ke Arab.

Kehidupan mulai membaik. Namun, impian untuk kembali bekerja ke luar negeri sempat muncul lagi pada 2023.

Ia berniat ke Hong Kong atau Taiwan, tapi suaminya melarang.

“Katanya, kalau pun ke luar negeri, harus berangkat bareng,” tuturnya.

Agustus tahun itu, pasangan ini merantau ke Malaysia, menjadi buruh bangunan.

Muhtasil menjadi tukang, sementara Marsuni menjadi buruh.

Dia ikut mengangkat semen dan mengaduk cor.

Tubuhnya sering pegal, bahkan pernah terjatuh saat tak sanggup menahan mesin pengaduk.

Tapi ia bertahan dua tahun, semata demi membiayai kuliah anaknya yang diterima di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tanpa beasiswa.

“Bukan kerjaan perempuan, tapi saya tahan demi anak,” katanya.

Kini, Marsuni memilih tidak lagi ke luar negeri.

Gajinya dulu sering dipotong hingga separuh, membuat jerih payahnya seperti tak berarti.

Bersama suami, ia bekerja menjaga toko Madura yang buka 24 jam.

Uang sisa dari Malaysia sebesar 25 juta rupiah habis untuk membiayai kuliah anak.

Bagi Marsuni, pelatihan pemberdayaan purna-PMI dari BP2MI Jember adalah secercah harapan baru.

“Saya ingin belajar lagi supaya tahu cara agar gaji saya yang dipotong bisa kembali ke saya. Selain itu, lewat pelatihan ini saya bisa punya penghasilan sendiri,” pungkasnya. (kin/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Purna PMI #Jember #pekerja migran #PMI