Radar Jember - Ketika terjadi pohon tumbang akibat angin kencang, TRC BPBD Jember bukan sekadar membersihkannya.
Tetapi, harus mengutamakan keselamatan warga yang terdampak, sehingga butuh keahlian dan ketelitian.
Bagi Muhammad Zaenudin Permana, anggota TRC BPBD Jember, bertugas sebagai pemotong kayu tidak semudah kelihatannya.
Dia tak sekadar menebang pohon yang rawan tumbang.
Kadang saat sebuah pohon besar tumbang menimpa rumah warga atau pengendara yang melintas, Zaenudin dituntut untuk bekerja ekstra hati-hati demi menyelamatkan nyawa.
Selama bertugas di BPBD sejak tahun 2014 silam, sudah tak terhitung dia menemui pohon tumbang yang menimpa warga.
Entah itu yang menimpa rumah atau mobil yang sedang melintas.
Saat itu terjadi, Zaenudin perlu melakukan sejumlah perhitungan agar ketika pohon ditebang tidak memperparah kondisi korban.
“Jadi yang ditebang dulu adalah bagian pohon yang membuat korban bisa dikeluarkan,” tuturnya.
Dia mencontohkan insiden di Gumitir dua tahun lalu, ketika pohon besar menimpa pengendara.
Tim harus fokus mengeluarkan korban terlebih dahulu, sehingga teknik pemotongan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Jika korban masih hidup, penanganan dilakukan secepat dan seaman mungkin.
“Kalaupun korban sudah meninggal, prosedurnya tetap sama, kami prioritaskan evakuasi,” tuturnya.
Pria 33 tahun itu melanjutkan, dalam tim TRC BPBD Jember, tugas di lapangan tidak melulu memotong pohon tumbang.
Sebab, ketika sudah berada di lokasi kejadian, ada kalanya anggota dituntut untuk rolling tugas.
Mulai dari pengemudi, asesmen, evakuasi, maupun penanganan pohon tumbang.
“Jadi tugasnya tidak saklek dalam satu hal, tergantung kondisi” ungkapnya.
Warga asli Patrang itu melanjutkan, alur penanganan kejadian biasanya bermula dari laporan Pusdalops BPBD.
Pusat kendali ini menerima informasi dari berbagai sumber, mulai dari perangkat desa, polsek, koramil, hingga unggahan warga di media sosial, terutama Facebook.
Begitu ada laporan pohon tumbang, tim TRC langsung diterjunkan sebagai ujung tombak penanganan di lapangan.
Pengalaman menangani kasus ringan hingga berat sudah sering dialami.
Salah satu yang paling berat terjadi pada 2016 di Pakusari, ketika puluhan pohon tumbang menutup jalan dan penanganan berlangsung berhari-hari.
Kesulitan terbesar muncul saat pohon menimpa bangunan.
Kalau salah perhitungan dan asal potong, kondisi bangunan justru bisa semakin parah.
“Makanya teknik pemotongan itu penting. Salah potong, bisa makin rusak,” katanya.
Jenis dan karakter kayu juga menentukan tingkat kesulitan.
Misalnya pohon pinus dan trembesi, yang rawan patah hanya dengan sedikit tekanan mesin pemotong.
Teknik pemotongan harus memperhitungkan arah jatuh dan potensi pecahan.
Koordinasi dengan pihak terkait juga penting, terutama jika pohon tumbang menutup jalan nasional.
“Tim harus memastikan ada jalur alternatif atau tidak, setelahnya bisa diputuskan apakah jalur akan dialihkan atau sistem buka tutup,” terangnya. (yul/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh