Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Inspiratif! Sediakan Ruang Anak Untuk Eksplorasi Ide, Mulai dari Naik Pegon Keliling Desa hingga belajar Bercerita

Yulio Faruq Akhmadi • Minggu, 12 Oktober 2025 | 01:45 WIB
BELAJAR DI LUAR KELAS: Puluhan anak peserta Kemah Dongen Anak Indonesia tampak gembira saat menaiki Pegon beberapa waktu lalu (Foto GUNAWAN TRIP)  
BELAJAR DI LUAR KELAS: Puluhan anak peserta Kemah Dongen Anak Indonesia tampak gembira saat menaiki Pegon beberapa waktu lalu (Foto GUNAWAN TRIP)  

Masa kecil selalu identik dengan imajinasi tanpa batas.

Di Kemah Dongeng Indonesia, imajinasi itu diberi panggung. Anak-anak diajak naik pegon, mengenal situs kuno, hingga berlatih mendongeng.

YULIO FARUQ AKHMAD

AMBULU, RADAR JEMBER

Derap langkah kaki lembu berpadu dengan tawa riang anak-anak. Tiga pegon beriringan pelan menyusuri jalan desa Andongsari, Ambulu, Jember. 

Di atas kereta sederhana itu, sekitar 40 anak peserta Kemah Dongeng Indonesia 2025 tampak antusias.

Tujuan mereka adalah situs kuno Watukebo, yang oleh warga setempat disebut Prasada Watukebo. Di lokasi itu, masih tersisa bongkahan batu besar, sebagian diyakini sebagai fragmen candi.

Meski hanya tersisa pecahan-pecahan, daya imajinasi anak-anak langsung terpicu. Ada yang menebak itu batu benteng, ada pula yang menganggapnya bekas istana. Semua terekam sebagai kisah yang akan mereka bawa pulang.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Jember Sugeng Riyadi yang menjadi salah satu pemateri pada giat tersebut, dia hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sahabat anak.

Dia berbaur untuk bercanda, hingga ikut mendengarkan dongeng sederhana yang lahir spontan dari peserta.

“Kalau anak-anak berani bertanya, berani mendongeng, dan berani mencoba hal baru, itu tandanya mereka hebat,” ujarnya.

Kegiatan jelajah desa itu hanyalah satu bagian dari rangkaian Kemah Dongeng Indonesia (KEDAI) 2025, yang digelar TBM Rimba Watukebo bersama Balai RW Institute di halaman SDN Andongsari 02 Ambulu, 20–21 September lalu.

Berkemah di halaman sekolah tua yang dulu dikenal sebagai sekolah rakyat era 1940-an, anak-anak diajak belajar bercerita dengan beragam medium muali dari gambar, pantomim, hingga tanah lempung.

Kehadiran DP3AKB di kemah ini juga menjadi bagian dari komitmen Jember menuju kabupaten ramah anak.

Sugeng Riyadi menekankan, anak-anak harus dilindungi dari kekerasan, diberi ruang aman, dan kesempatan untuk tumbuh kreatif.

“Edukasi ini juga perlu kami sampaikan, namun dengan gaya bersahabat, tidak dengan kesan formal birokrasi,” tuturnya.

Sementara itu Ketua TBM Rimba Watukebo Ani Rosyida, menyebut ruang ekspresi anak-anak sengaja dibuka selebar-lebarnya.

“Dongeng bukan hanya hiburan, tetapi cara anak mengenali dirinya dan lingkungannya. Dari cerita sederhana mereka belajar nilai kejujuran, keberanian, dan persahabatan,” katanya.

Selain jelajah situs dengan pegon, kegiatan juga diwarnai workshop penulisan cerita, lomba mendongeng, pameran literasi, hingga sarapan bersama ditemani koleksi buku dari mobil pintar Dispusip Jember.

Semua aktivitas dikemas sederhana, namun memberi makna mendalam bagi anak-anak yang tumbuh di tengah derasnya gempuran gawai dan media digital.(yul)


 

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #dongeng #Budaya #kemah #ambulu #Sugeng #Srawung