Radar Jember - Dedikasi dan keikhlasan guru ngaji tidak bisa dinominalkan.
Meski hampir separuh masa hidupnya dihabiskan untuk mengajar, mereka ikhlas.
Tujuannya satu, demi generasi muda paham agama.
Tidak ada yang istimewa dari cara penampilannya maupun pakaiannya.
Seolah menunjukkan kesederhanaan adalah teladan bagi para anak-anak didiknya.
Namun di balik kesederhanaan itu, terselip perjuangan mulia yang dihabiskan belasan tahun lamanya dengan dedikasi yang tulus dan ikhlas.
Demi anak-anak paham ilmu agama.
Beginilah kehidupan Marti, perempuan yang sekaligus seorang ustadah di sebuah Taman Pendidikan Alquran (TPA) Insan Kamil, di Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, Jember.
Perempuan 52 tahun ini telah menghabiskan hampir separuh masa hidupnya untuk mengajar agama untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.
Cerita dimulai sejak tahun 2012 lalu.
Saat itu, ia berinisiatif untuk mengajar anaknya sendiri belajar Alquran, yang tidak mau mengaji, di rumahnya yang sederhana.
Namun seiring berjalannya waktu, ada keponakannya yang juga ikut serta.
"Lalu itu terus, ada anak tetangga, semakin banyak, dan hingga ada banyak anak-anak dan guru-gurunya juga, kata dia, mengisahkan awal dedikasinya.
Selama mengajar hingga dibantu Ustad-ustadah itu, ia tidak pernah menarik iuran ataupun SPP.
Semua ia niatkan untuk beramal.
Ia seperti meyakini bahwa rezeki itu misteri yang bisa datang dari arah mana saja.
Awal mengajar itu, ia mengajar 13 anak.
Berjalannya waktu, kini murid-muridnya sudah ada sekitar 70 anak dan lembaga TPA-nya sudah didaftarkan di Kementerian Agama Jember.
Untuk biaya operasional TPA, anak-anak dan wali murid menyepakati iuran sebesar seribu rupiah setiap kali per pertemuan.
Setiap tahun kalau ada sisanya, dibuat untuk mengajak liburan anak-anak menggunakan kereta kelinci di sekitar Jember.
"Jadi mesti habis untuk operasional anak-anak, seribu rupiah itu," imbuh ibu satu anak ini.
Untuk menambal biaya kehidupan sehari-hari, Marti hanya mengandalkan penghasilan sang suami yang bekerja sebagai penjaga toko elektronik di desa setempat, dan bertani.
"Sawahnya juga bukan milik sendiri, jadi hasil dari suami yang serabutan ini," tambahnya.
Marti juga tercatat menjadi pengajar di salah satu Madrasah Ibtidaiyah sekitar tempat tinggalnya.
Itu pun penghasilannya tidak seberapa.
"Tidak lebih dari Rp 500 ribu kok," imbuh ibu 52 tahun ini diselingi tawa.
Di tengah segala keterbatasan itu, kabar bahagia juga menghampiri Marti, ia juga menjadi salah satu penerima program Bupati Jember Muhammad Fawait sebagai penerima honor atau insentif guru ngaji sebesar Rp 1,5 juta.
"Alhamdulillah bisa dapat bantuan dari bupati, anak saya yang besar ini kuliah di Unesa, rencananya mau saya gunakan untuk bayar kos anak saya," katanya, mengisahkan perjuangan si sulung mengampuh pendidikan di Kota Pahlawan itu.
Tidak hanya untuk biaya sang anak, sedianya uang insentif itu juga akan ia putar untuk kebutuhan anak-anak didiknya di TPA-nya tersebut.
"Sisanya nanti untuk kebutuhan saya dan TPA," imbuh perempuan yang akrab disapa Ustadah Marti ini. (mau/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh