Radar Jember – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan lamban dan menjadi program yang realisasinya buruk.
Selama 8 bulan terakhir, progres di Jember kurang dari 10 persen dari target dari 200 dapur.
Nah, kasus terbaru, ada dapur yang menyajikan makanan basi kepada siswa, kemarin (26/9).
Untuk itu, program MBG layak distop, karena membahayakan bagi seluruh siswa yang ada di Jember dan Indonesia.
Lebih baik, program ini dialihkan pada pemberian uang secara langsung kepada siswa, diberikan dalam bentuk beras, atau dalam bentuk lain, dan tidak terjebak pada proyek semata.
Kasus makanan basi ini terjadi di SDN Bintoro 05, Lingkungan Mojan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang pada, Jumat (26/9).
MBG yang dibagikan langsung ditolak oleh guru dan siswa, karena kondisi makanannya basi.
Ini bisa berbahaya dan bisa membuat siswa keracunan.
Fadli, guru SDN Bintoro 05, Kecamatan Patrang mengatakan, penolakan makanan yang dilakukan guru dan siswa karena makanannya basi.
“Guru di sini langsung tanggap dan melarang siswa untuk memakannya. Ini bukan makanan bergizi, tetapi makanan basi yang membahayakan,” katanya.
Dikatakan, MBG harus dicek tidak hanya saat dikemas, tetapi saat MBG disajikan kepada siswa.
Ini agar makanan bergizi tak berubah menjadi makanan beracun.
“Tolong kepada ahli gizi maupun yang mengadakan MBG di wilayah Kecamatan Patrang untuk memperhatikan makanan. Jangan main-main ngomong masalah makanan kepada anak-anak. Meskipun siswa yang berada di wilayah pinggiran yang masih masuk kota ini jangan seenaknya, mengirim makanan basi,” jelasnya.
Dikatakan, makanan yang dikirim sudah basi dan tidak layak untuk dimakan.
Jika makanan basi yang dikirim, maka bukan gizi yang mencerdaskan yang didapat, namun siswa bisa keracunan.
“Cek makanannya sekali pun itu sudah sampai di sekolah. Ini makanan sudah tidak layak tetap dikirim. Baunya sudah nyengak. Ini bukan makan gizi gratis, tetapi sudah jadi racun,” ungkapnya.
Fadli menyebut, apa yang telah terjadi di sejumlah kabupaten/kota selayaknya menjadi pelajaran bagi Jember.
Namun, dapur di Jember ternyata juga mengirim makanan basi.
Dia menyebut, makanan basi yang sampai di SDN Bintoro 05 sudah sering terjadi.
Bahkan, sekolah juga pernah memperingatkan. Namun, kemarin terjadi lagi.
“Orang tua juga banyak yang mengeluh dengan kejadian ini,” ucapnya.
Dia juga mengingatkan agar MBG tak sekadar menjadi proyek untuk mencari keuntungan.
MBG di SDN Bintoro 05, juga pernah ada pentol bakso tetapi kondisinya sudah basi.
Selain itu, kata Fadli, ada pisang dan susu kotak yang kondisinya kedaluwarsa.
Hal itu tentu sangat membahayakan bagi nyawa siswa.
Lantaran makanan basi yang dikirim, kemarin, banyak siswa yang komplain, sehingga makanan basi itu dikumpulkan dan dibuang.
“Petugas yang mengirim MBG ke SDN Bintoro 05, sudah diingatkan, bahkan ahli gizi sudah pernah diingatkan, tetapi tertawa saja,” jelas Fadli.
Sementara itu, sejumlah wali murid menyebut, program MBG layak untuk di stop.
Wacana pemberian dalam bentuk uang secara langsung dinilai lebih efisien dan tidak membahayakan siswa.
“Dari pada ini hanya menjadi proyek yang tidak jelas dan berbahaya bagi siswa, paling simple berikan saja dalam bentuk uang. Kemudian setiap siswa membawa makanan dari rumah masing-masing,” ucap Hasim, warga Patrang.
Hal ini juga sempat disampaikan oleh mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau dikenal Ahok.
Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, wacana pengalihan program MBG juga sempat disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Pria ini mewacanakan, pengalihan MBG dalam bentuk beras yang diberikan per bulan kepada keluarga siswa.
Sementara itu, penanggung jawab MBG Ahmad Sudiono yang mengirim makanan di sekolah ini menyebut, makanan yang dibagi tidak basi.
Dikatakan, menu kemarin yakni spageti dan sayur salad.
“Itu tidak basi. Namanya menu spageti, kami mengelolanya menggunakan cuka, mungkin aroma cuka itu yang anggap basi," kata Sudiono, kepada wartawan.
Dia juga menyebut akan memberikan edukasi bersama ahli gizi ke sejumlah sekolah.
Sudiono juga sempat memakan spageti di hadapan wartawan.
"Ini saya praktikkan dan enak,” ungkapnya.
Dia juga menyebut, bau kecut dan rasa kecut itu karena memakai cuka, sehingga hal itu perlu dipahami semua orang.
Terpisah, Dinas Pendidikan (Dispendik) Jember merespons cepat adanya informasi terkait dugaan MBG yang didistribusikan ke SDN Bintoro 05 dalam kondisi basi.
Kepala Dispendik Jember Hadi Mulyono memastikan, pihaknya tidak tinggal diam.
Menurutnya, informasi semacam ini harus segera ditelusuri agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Ia langsung menginstruksikan jajarannya untuk bergerak ke lapangan.
Hadi menyebut telah menugaskan bidang SD untuk melakukan konfirmasi langsung ke pihak sekolah.
Selain itu, komunikasi juga dilakukan dengan Satuan Pendidikan Penyelenggara Gizi (SPPG) setempat.
“Saya tugaskan teman-teman bidang SD untuk konfirmasi ke sekolah atas pemberitaan dan informasi tersebut, juga komunikasi dengan SPPG setempat,” ujarnya.
Langkah ini diambil agar informasi yang beredar bisa dipastikan kebenarannya. Ini juga dilakukan agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan. (jum/kin/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh