Radar Jember - Kerja pemerintah dalam menjalankan program MBG kurang cepat.
Buktinya, sejak di-launching 6 Januari 2025, hingga 6 September 2025, hanya beberapa sekolah yang mendapatkannya.
Lantas, kapan semua siswa di Jember dapat MBG?
Suatu pagi di bulan Agustus lalu, seorang siswa bertanya pelan kepada gurunya: “Bu, kapan ya dapat makan bergizi gratis?”
Guru itu terdiam sebentar.
“Mungkin masih belum sampai sini. Karena kan bertahap dan berurutan,” jawabnya kemudian.
Potret ini datang dari salah seorang guru di Jember bagian selatan.
Lokasinya cukup jauh dari kawasan kota.
Terbilang pelosok dan pinggiran.
Meski demikian, guru itu tetap memberikan jawaban meskipun tak bisa memberi kepastian kapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu terealisasi.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, guru itu mengungkapkan harapan agar MBG segera berjalan sesuai harapan.
Tepat delapan bulan sejak program ini diluncurkan secara nasional, pelaksanaannya di Jember masih jauh dari rencana awal.
Dari target 250 dapur, jumlah yang beroperasi bisa dihitung jari.
Berdasar data Badan Gizi Nasional (BGN), ada 12 Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) di Jember.
Di antara belasan SPPG itu, informasi yang didapat, baru lima dapur yang benar-benar beroperasi.
Di antaranya di Kelurahan Jember Lor dan Bintoro, Kecamatan Patrang, serta di Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro.
Setiap dapur diproyeksikan dapat mengaver 2 ribu hingga 3 ribu siswa atau penerima manfaat.
Jika diambil rata-rata 2.500 penerima per dapur, maka akan ada 625 ribu penerima manfaat MBG.
Namun, hingga kini hanya sekitar 10 ribu siswa saja yang sudah menerima MBG sejak dapur sehat beroperasi di Jember Mei lalu.
Nah, Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di Kecamatan Patrang mendapat sambutan positif dari para orang tua.
Di sisi lain, tak sedikit orang tua di kecamatan lain yang merasa kerja pemerintah kurang cepat.
Ini karena program MBG hanya berjalan di Patrang, dan itu dirasakan sejumlah sekolah saja.
Artinya, MBG belum dirasakan oleh seluruh siswa yang ada di Jember.
Vindy Putri, salah satu orang tua murid di Kecamatan Sumbersari, mengaku awalnya semangat menyiapkan bekal sehat untuk anaknya yang duduk di bangku TK.
Namun, seiring berjalannya waktu, anaknya mulai terpengaruh teman-temannya yang membawa makanan ringan dalam kemasan (ciki-ciki), sehingga pola makan sehat yang ia upayakan perlahan berubah.
“Dulu awalnya saya selalu siapkan buah, susu, dan roti untuk bekal anak. Tapi, sekarang yang tersisa sehat cuma susunya saja,” ujarnya.
Vindy menilai, jika program MBG bisa diterapkan di seluruh kecamatan, maka anak-anak akan memiliki kebiasaan makan yang lebih sehat dan tidak lagi tergoda dengan makanan tidak bergizi dari teman sebayanya.
“Kalau semua anak dapat makanan sehat, pasti mereka tidak bawa ciki-ciki lagi. Karena yang dibawa teman-temannya juga sehat semua,” tambahnya.
Program MBG di Kecamatan Patrang memberikan makanan bergizi secara gratis setiap hari kepada siswa.
Menu yang diberikan mencakup karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu, guna menunjang pertumbuhan dan konsentrasi belajar anak-anak.
Sayangnya, ini belum terjadi secara merata di seluruh kecamatan atau di semua sekolah yang ada di Jember.
Banyak para orang tua berharap pemerintah bisa segera memperluas cakupan program ini agar manfaatnya bisa dirasakan secara merata oleh seluruh anak di Jember.
Selain itu, program ini tidak sekadar menjadi program percobaan yang ujungnya gagal.
Wali murid siswa SD, Istahana, di Kecamatan Rambipuji menyebut, kerja pemerintah kurang cepat.
Untuk itu, dia menyarankan agar pemerintah bisa kerja lebih cepat lagi mengingat program telah dianggarkan oleh pemerintah pusat.
“Pemerintah perlu kerja lebih cepat lagi,” katanya.
Dikatakan, program pemerintah seperti MBG akan merupakan program besar.
Apalagi, menyangkut semua siswa.
“Jangan sampai program ini hanya menjadi produk dari hasil kampanye saja. Buktikan dengan menjalankan program. Anak saya belum dapat MBG. Kapan semua siswa dapat program MBG?” ucapnya.
Pertanyaan ini tentunya juga menjadi pertanyaan semua orang tua yang anaknya belum dapat MBG. (kin/dwi/c2/nur)
Mengenai Program MBG
- Di-launching Presiden RI Prabowo Subianto pada 6 Januari 2025.
- Diberikan kepada siswa sekolah. Diharapkan juga untuk balita, ibu hamil, hingga anak stunting.
- Untuk siswa, MBG diantar mulai pukul 8.00 hingga 11.00.
- Setiap dapur sehat terdapat 50 orang (Kepala SPPG, ahli gizi, ahli akuntan, juru masak hingga tukang antar makanan).
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jember
Proyeksi Kapasitas Layanan
- Kuota Jember: 250 dapur SPPG
- Melayani 000 – 3.000 penerima per dapur
- > 500.000 penerima manfaat
Jumlah Sasaran Penerima MBG
Total Sementara: 258.993 siswa dari 3.285 sekolah.
Sasaran
Siswa. (Kemudian kedua dan selanjutnya menyasar Balita, Ibu hamil, Ibu menyusui, dan Anak stunting.
Kondisi SPPG di Jember
- 12 SPPG Operasional
- 2 SPPG Beroperasi
- 10 SPPG dalam Persiapan
Usulan Lokasi Baru SPPG
- Pemerintah pusat meminta daerah menyiapkan lokasi tambahan.
- 8 Lokasi Usulan Pemkab Jember
- 3 Lokasi Sudah Disurvei BGN
KPPG Nasional
Jember ditunjuk menjadi Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Nasional yang membawahi 11 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Target Nasional
Harus 100 persen operasional November 2025
Langkah-Langkah ke Depan
- Pemkab telah membentuk Satgas Percepatan MBG
- Pemkab membuka peluang kolaborasi dengan stakeholder & swasta untuk percepatan.
Sumber: Satgas Percepatan Program MBG
JUMLAH SISWA DI JEMBER
JENJANG JUMLAH
KB/Sederajat 11.995
TK/Sederajat 57.891
SPS 8.148
SD/Sederajat 200.421
SMP/Sederajat 101.356
SMA/Sederajat 45.700
SMK/Sederajat 40.143
SLB/Sederajat 662
TOTAL 466.316
SUMBER: Portal Data Pendidikan Kemendikdasmen RI per 1 September 2025.
Editor : Imron Hidayatullahh