SUMBERSARI, Radar Jember – Banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jember yang pulang kampung bukan dengan cerita kesuksesan, melainkan membawa persoalan baru.
Alih-alih menikmati hidup lebih baik setelah bertahun-tahun bekerja di luar negeri, sebagian dari mereka justru terjerat masalah.
Mulai dari ekonomi, sosial, hingga hukum. Merespon itu, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur menggelar pemberdayaan sosial bagi purna PMI dan keluarganya di Jember.
Kegiatan yang diinisiasi BP3MI Jatim bersinergi Tanoker Ledokombo ini berlangsung selama empat hari, mulai Senin (1/9) hingga Kamis (4/9) di Hotel Fortuna Grande Jember.
Ada 20 purna PMI dan keluarganya yang dilibatkan. Mereka berasal dari Desa Sumbersalak, Sumberlesung, Slateng, dan Ledokombo di Kecamatan Ledokombo, serta Desa Harjomulyo Kecamatan Silo.
Mayoritas purna PMI itu pernah bekerja di Malaysia dan Timur Tengah.
Tim Pemberdayaan BP3MI Jatim Mokhamad Abdul Rozaq mengatakan, pemberdayaan ini untuk mengembalikan keberfungsian sosial dan ekonomi para purna PMI setelah kembali ke tanah air. Pihaknya melihat banyak PMI Jember yang pulang bukan membawa kesuksesan, tapi justru membawa masalah.
Oleh karena itu, Jember menjadi salah satu lokasi fokus (lokus) sasaran pemberdayaan.
Apalagi, sebagian besar peserta pemberdayaan ini masih belum memahami tata cara penempatan kerja ke luar negeri secara prosedural.
Rozaq menyebut, banyak di antara mereka berangkat secara non-prosedural. Sehingga ketika kembali ke Indonesia menghadapi kebingungan baru.
Selain fokus pada purna PMI, pemberdayaan ini juga menyasar keluarga pekerja migran, terutama anak-anak.
BP3MI ingin memastikan, pendidikan anak PMI tetap terjamin meskipun orang tua mereka bekerja di luar negeri.
“Harapannya, anak-anak ini bisa menjadi pelopor pembelajaran di lingkungannya. Jadi ada gotong royong pendidikan yang tumbuh dari komunitas,” terang Rozaq.
Pemilihan peserta dari Kecamatan Ledokombo dan Silo juga memiliki alasan tersendiri.
Rozaq menyebut, selama ini banyak kegiatan dilakukan di wilayah selatan Jember, sehingga tahun ini diarahkan ke wilayah utara.
“Kebetulan lokus Tanoker juga ada di Ledokombo, sehingga lebih mudah menjaring peserta sekaligus bersinergi dengan lembaga lokal yang peduli pada pendidikan anak PMI,” jelasnya.
Sementara itu, Founder Tanoker Ledokombo Farha Cicik, menyambut baik langkah BP3MI Jatim yang menggandeng komunitas lokal dalam program ini.
Menurutnya, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk mendampingi tidak hanya calon PMI, tetapi juga purna PMI beserta keluarganya.
Cicik menilai hadirnya negara dalam kegiatan ini memberi penguatan yang nyata bagi masyarakat.
“Saya kira kehadiran negara menjadi sesuatu yang memang harus dikuatkan. Dan ini adalah salah satu hal positif. Kami senang sekali, karena bagi kami safe migration atau migrasi aman dan bermartabat itu bukan hanya tentang pekerja migrannya, tapi juga keluarganya. Jadi ini sesuatu yang tidak boleh dipisahkan," ungkapnya.
Ia menambahkan, isu pekerja migran tidak boleh hanya fokus pada mereka yang bekerja di luar negeri, tetapi juga pada keluarganya yang ditinggalkan. Kompleksitas masalah pekerja migran, kata Cocok, memang super rumit.
Dari masalah lokal hingga global.
"Tapi itu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keluarga yang ditinggalkan. Keduanya sama-sama penting untuk diberdayakan,” pungkasnya. (kin/nur)
Editor : M. Ainul Budi