Radar Jember - Ketimpangan terhadap akses pendidikan sepertinya masih dirasakan oleh anak-anak yang tinggal di lereng Pegunungan Argopuro ini.
Kehendak alam yang kadang susah ditebak, membuat perjuangan mereka berangkat ke sekolah tidak mudah.
Semangat mengukir asa itu terekam dalam reportase berikut ini.
Hujan yang mengguyur pada malam hari saat itu sepertinya cukup lebat.
Beberapa meter sepanjang jalanan menanjak dan bebatuan juga terlihat masih becek.
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 06.45, sekelompok anak-anak berseragam Pramuka berjalan kaki.
Pecah tawa dan candaan menyelingi setiap langkah kecil kaki mereka yang penuh dengan endapan lumpur.
Sebagian anak-anak memilih mengenakan sandal jepit.
Sebagian lainnya memilih melepas sepatu.
Tak ada wajah muram.
Sesekali mereka melemparkan senyum saat pekerja kebun menyapanya.
Tawa mereka lepas mengiringi semangatnya, menuju ke sekolah mereka, yakni di SDN Kramat Sukoharjo 02, di Desa Kramat Sukoharjo, Kecamatan Tanggul, Jember.
Mereka merupakan anak-anak desa setempat yang setiap hari mengukir cerita dengan berjalan kaki.
Menerabas lebatnya hutan di lereng Pegunungan Argopuro itu.
Sebagian dari mereka ada yang diantar menggunakan sepeda motor.
Namun, sebagian besar memilih berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter.
Akses jalanan memang mayoritas telah aspal.
Namun, tersisa puluhan meter jauhnya, masih berupa endapan tanah dan bebatuan.
Sementara, lokasi sekolah mereka berada di kawasan Pegunungan Argopuro.
Tepatnya di sekitar Kantor PTPN XII, Perkebunan Zeelandia, Desa Kramat Sukoharjo, Tanggul.
"Lebih enak pakai sandal, Pak," jawab salah satu anak, saat ditemui, medio akhir Mei lalu.
Baik sekolah maupun tempat tinggal mereka berjarak cukup jauh.
Dari kantor Kecamatan Tanggul sekitar 10 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.
Sementara dari Jember kota, sekitar 40 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam lebih.
"Meski kondisinya anak-anak seperti itu, tapi kami sangat bangga. Semangatnya mereka itu kadang menyemangati kami," kata Nurul Aini, guru di SDN Kramat Sukoharjo 02, saat ditemui, belum lama ini.
Aini merupakan warga desa setempat juga.
Ia tinggal di Dusun Kramat Timur, lebih dekat dan lebih ramai permukiman ketimbang di sekitar perkebunan.
Aini merupakan salah satu dari delapan dewan guru di sekolah tersebut.
Jumlah siswanya pun tak banyak, ada sekitar 46 anak.
"Alhamdulillah tahun ini sedikit nambah, kelas satu tahun lalu empat anak, sekarang nambah jadi tujuh anak," aku guru wali kelas satu itu.
Tak hanya anak-anak, dewan guru kadang juga diuji saat berangkat ke sekolah.
Terutama saat cuaca buruk, hujan deras, saat malam hari atau pagi hari.
Tak jarang, anak-anak setempat terpaksa diliburkan.
"Alasannya tentu keselamatan. Pernah yang terakhir itu kami terpaksa meliburkan anak-anak, karena hujan cukup deras. Ada akses lokasi di dekat sekolah yang kondisinya membahayakan untuk dilewati anak-anak," katanya, mengisahkan perjuangan muridnya.
Di sekolah, akses telekomunikasi dan listrik memang sudah lama masuk.
Sarana dan prasarana yang cukup memadai juga tersedia.
Namun, kehendak alam sering kali datang tak terduga, bisa seketika menciutkan niat.
"Kalau cuma hawa dingin, kabut pagi hari, bagi anak-anak sudah biasa. Semangat mereka itu yang bikin kami termotivasi. Cuma kalau hujan deras, apalagi dapat info sampai ada banjir, ini kami kepikiran anak-anak," tambah Aini.
Aini bukan guru baru.
Ia sudah lama mengajar di sekolah itu sejak lima tahun terakhir.
Sebelum pindah tugas setelah lolos jadi PPPK, ia sempat mengajar di SDN Kramat Sukoharjo 01, sejak sepuluh tahun lebih.
Baginya, anak-anak di pedalaman juga perlu mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Seperti halnya anak-anak di desa atau perkotaan lain.
Ia merasa terpanggil, mengantarkan anak-anak bebas dari belenggu buta huruf dan mengukir prestasinya.
"Meski kondisinya seperti ini, saya menikmati. Mereka anak-anak yang juga berhak mendapatkan pendidikan," imbuh alumnus Universitas Terbuka (UT) ini.
Nurul Hidayah, pendamping lokal desa, di Desa Kramat Sukoharjo, menambahkan bahwa selama ini, warga yang tinggal di sekitar perkebunan ada sebagian yang memilih pindah dan menyekolahkan anaknya ke bawah.
"Dulu sekolah dekat perkebunan itu, lebih banyak siswanya, sekarang sudah banyak yang pindah. Tapi minat masyarakat menyekolahkan anaknya saya melihat masih cukup tinggi, semoga semangat anak-anak bersekolah ini tetap terjaga," tambah Nurul. (nur)
Editor : Imron Hidayatullahh