Radar Jember – Dunia pertanian dan peternakan semakin sulit melepas dari ketergantungan memakai pestisida.
Petani pun akan mendapatkan dampaknya secara langsung dari pemakaian bahan kimia tersebut.
Latar belakang inilah yang dijadikan bahan penelitian oleh HM Arum Sabil untuk menuntaskan tesisnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.
Tokoh pertanian asal Jember yang kini menjadi Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim dan Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Jatim tersebut menambah gelar akademiknya sebagai magister kesehatan lingkungan.
Dalam tesisnya, HM Arum Sabil SP SH MKL mengupas bahaya penggunaan pestisida.
“Sederhananya, pestisida kimia itu racun. Bisa membunuh. Dari situlah saya terdorong meneliti bahaya pestisida dan bagaimana penggunaan yang tepat,” ungkapnya.
Arum menemukan fakta bahwa paparan pestisida berpotensi memicu anemia, diabetes melitus, hipertensi, hingga gangguan fungsi hati pada petani.
Hal itu diperoleh dari penelitian lapangan melalui wawancara, kuesioner, dan pemeriksaan kesehatan langsung.
“Salah satu pemicunya adalah kandungan Endocrine Disruption Chemical (EDC) yang bisa merusak kelenjar endokrin. Jika terhirup atau masuk ke tubuh, maka bisa memicu penyakit kronis,” jelasnya.
Untuk menekan risiko tersebut, Arum menekankan, pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) saat penyemprotan.
Di sisi lain, ia juga mengembangkan pestisida organik berbahan dasar bawang putih dan bawang merah.
“Efektivitasnya cukup baik mengendalikan hama, dan jauh lebih aman dibanding pestisida sintetis,” paparnya.
Arum berharap risetnya dapat menjadi solusi agar petani beralih ke praktik pertanian sehat dan ramah lingkungan.
“Pangan harus bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hanya untuk manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya. Pertanian sehat adalah kunci hidup berkelanjutan,” ujarnya. (nur/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh