Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dapat Order tapi Bensin Habis! Ojol Jember Frustrasi, Aplikasi Nonaktif karena Antrean SPBU Mengular

Yulio Faruq Akhmadi • Senin, 28 Juli 2025 | 14:45 WIB
SEMRINGAH: Seorang pengemudi ojol akhirnya dapat tersenyum lebar usai mendapat giliran pengisian BBM setelah antre berjam-jam di SPBU Jalan Gajah Mada, kemarin (27/6/2025).
SEMRINGAH: Seorang pengemudi ojol akhirnya dapat tersenyum lebar usai mendapat giliran pengisian BBM setelah antre berjam-jam di SPBU Jalan Gajah Mada, kemarin (27/6/2025).

Radar Jember - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang mulai melanda Jember sejak Sabtu (26/7/2025) membawa dampak serius bagi banyak kalangan.

Salah satu yang paling merasakan imbasnya adalah para pengemudi ojek online (ojol), yang aktivitasnya begitu bergantung pada ketersediaan bensin.

Sejak antrean di SPBU mengular hingga ratusan meter, banyak ojol harus rela kehilangan waktu produktif hanya untuk mendapatkan beberapa liter BBM.

Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih tidak menghidupkan aplikasi, lantaran takut kehabisan bensin saat mengantar penumpang atau makanan.

Ketua komunitas ojol Arek Macan Raung (Arcara), Dedi Albes Setiawan, mengatakan sebagian rekan sesama driver saat ini memilih tidak mengaktifkan aplikasi.

“Banyak driver yang tidak menghidupkan aplikasi karena BBM langka, bahkan walaupun sudah antre di SPBU, aplikasi juga tidak dinyalakan karena antrenya lama” katanya, Minggu (27/7).

Dampak ekonomi langsung pun dirasakan para driver.

Kerugiannya bukan hanya pendapatan yang turun, tetapi mereka juga harus mengeluarkan lebih banyak tenaga dan waktu untuk mendapatkan BBM.

“Kadang sudah dapat order, tapi bensin sudah di ujung, jadi terpaksa cancel. Itu bikin frustrasi,” tambah pria yang akrab disapa Albes itu.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Jember Online Bersatu (FKJOB), Dedy Novianto, menyebut kelangkaan Pertalite juga memaksa banyak driver roda dua maupun roda empat beralih ke Pertamax yang harganya lebih mahal.

“Selisih harga Rp2.500 per liter cukup berat. Rata-rata konsumsi harian mobil sekitar 10 liter, itu artinya kehilangan Rp 25 ribu per unit per hari. Untuk motor sekitar 4 liter, artinya ada potensi berkurangnya pendapatan sebesar Rp 10 ribu per hari,” jelasnya.

Pihaknya berharap kelangkaan BBM dapat segera diatasi dan semua pihak terkait bisa bersinergi.

“Kami butuh BBM agar bisa bekerja. Penumpang pun butuh kami. Semoga distribusi segera normal,” pungkasnya. (yul/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #ojol #bbm langka #antrean spbu