Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ironi Senja di Atas Galian Gumuk Kalisat yang Habis Digali, Seribu Gumuk di Jember Kini Tinggal Ratusan

Mega Silvia RJ • Jumat, 25 Juli 2025 | 15:25 WIB
TERUS DIEKSPLOITASI: Kondisi salah satu gumuk di Dusun Kotok, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, yang sudah jadi kolong akibat penambangan, Minggu (20/7/2025).
TERUS DIEKSPLOITASI: Kondisi salah satu gumuk di Dusun Kotok, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, yang sudah jadi kolong akibat penambangan, Minggu (20/7/2025).

Radar Jember - Kecamatan Kalisat adalah wilayah dengan keberadaan gumuk yang berserak.

Satu gumuk di Kalisat telah tiada.

Menyisakan lubang menganga akibat penambangan yang masih berlangsung sampai tulisan ini dibuat.

Air menggenang, kehijauan, ada orang memancing, beberapa warga lokal.

Saat itu senja 20 Juli meraba.

Semburat jingga yang hangat memancar di kejauhan langit tepat di depan mata, dari bekas gumuk di Dusun Kotok, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat.

Pecahan batuan piring, sejenis batu andesit dari lava membeku, berserakan di sekelilingnya.

Dari atas, tampak jelas profil gumuk, batuan piring seperti kue lapis.

Dari berdirinya payung terpal biru pertanda titik penambangan, besar kemungkinan gumuk masih aktif dieksploitasi.

Rerumputan tumbuh, tapi tak ada vegetasi hasil reklamasi.

"Ayo turun ke gumuk," ajak Icen kepada tujuh kawan, termasuk saya, begitu sampai, sekira sepuluh menit dari Stasiun Kalisat mengendarai sepeda motor.

Icen yang akrab disapa Fabian Aldiano adalah warga Desa/Kecamatan Kalisat yang kerap main ke sana.

Juga anggota komunitas kolektif Sudut Kalisat yang fokus pada studi arsip, sejarah lokal, dan seni budaya.

Ajakan itu agaknya kelakar satir yang menyiratkan bahwa gumuk sudah habis.

Tak ada puncak yang bisa didaki.

Hanya tersisa kubangan bak danau yang curam.

Maka, tak mungkin naik, yang benar memang menuruninya.

Agak susah mengukur tinggi gumuk yang telah digali.

Tapi, jika turun, butuh sedikit tenaga untuk sampai setelah menapaki puluhan langkah.

Tak jauh dari itu, juga ada gumuk tinggi yang jelas profilnya, tanda penambangan juga terjadi.

Barangkali, nasibnya akan sama jika tak ada yang mempertahankan.

Icen mengisahkan, di gumuk yang telah berubah menjadi lubang itu salah satu yang memiliki batuan piring terbaik.

Warnanya agak kehijauan.

Pasarnya sudah skala internasional, banyak buyer dari luar negeri yang melirik.

"Menurut Pak Rasi, Pak Rasi itu adalah penambang gumuk, terus dia ahli dalam batu-batuan," katanya mengungkapkan sumber ceritanya.

Konon, ia tak rata dengan tanah.

Masih ada batuan yang tersimpan.

Bahkan, kisahnya lagi, penambang itu mengira batuan ada di bawah lahan sawah, di samping lubang bekas tambang, jika penggalian terus dilakukan menyamping.

Memang ada beberapa petak sawah lumayan luas di sampingnya.

Tembakau yang subur menghijau, ada beberapa pohon kelapa, dan rel kereta api yang memisahkannya dengan gudang tembakau.

Selang besar dari bawah kubangan bekas gumuk menjulur ke puncak sengaja dibiarkan, biasanya untuk menyedot air untuk mengairi sawah.

Sejak kapan gumuk itu digali, Icen tak tahu persis.

Milik warga lokal atau telah dijual pun, dia ragu menceritakan.

Tapi, sejak ia SMA dan pindah dari Magetan ke Kalisat 2016 silam, gumuk sudah mulai ditambang.

Para pemuda, warga lokal, kerap menjadikannya jujukan.

Pada 2017, saat kamera GoPro sedang ngetren di kalangan remaja Kalisat, kubangan itu jadi tempat wisata dadakan.

Spot yang pas untuk berswafoto dengan latar menjelang matahari tenggelam, sunset-an katanya.

"Banyak yang foto di sini," ungkap Icen sembari memandang langit yang mulai surup.

Tak dapat dibohongi, bukan hanya saya yang mengutarakan indahnya nyore di atas kubangan yang tak lama lagi benar-benar tak bersisa itu.

Tapi saya berpikir, akan lebih indah jika senja dinikmati dari gumuk ketika masih memiliki puncak.

Icen sempat menyebutkan, Kota Seribu Gumuk ini kini hanya menyisakan seratusan gumuk.

Hitungan terakhir, saat Sudut Kalisat melakukan riset tentang batuan pada 2022 hingga 2023. (sil/c2/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #tambang #Tambang gumuk #Gumuk