Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kiprah Enno Helga Kenalkan Jember lewat Tarikan Canting, Torehkan Motif Khas Arjasa hingga Mendunia

Yulio Faruq Akhmadi • Kamis, 17 Juli 2025 | 14:50 WIB
KREATIF: Enno Helga membatik dengan dengan teknik tarikan canting, di depan pintu utama kantor Radar Jember, (16/7/2025) kemarin.
KREATIF: Enno Helga membatik dengan dengan teknik tarikan canting, di depan pintu utama kantor Radar Jember, (16/7/2025) kemarin.

Radar Jember - Tarikan cantingnya bukan sekadar menorehkan lilin batik di atas kain.

Di tangan Enno Helga, setiap motif Batik Silobango menyimpan cerita tentang kampung halamannya di Arjasa, Jember, yang kini disorot panggung dunia.

Batik Silobango karya Enno Helga mulai dikenal dunia saat tampil di Milan Fashion Week pada tahun 2019 lalu.

Sejak itu, perempuan asli Arjasa ini tak pernah berhenti menorehkan filosofi kampung halaman dalam setiap motif batiknya.

Batik Silobango bukan sekadar kain bercorak indah.

Bagi Eno, batik ini adalah warisan budaya yang bercerita tentang sejarah desanya.

“Setiap gambarnya ada filosofinya, semua berasal dari sejarah Arjasa,” ujar Eno, saat melakukan praktik membatik dalam acara HUT ke-26 Jawa Pos Radar Jember, kemarin (16/7/2025).

Motif Silobango terinspirasi dari nama lama Desa Arjasa dan mengusung filosofi budaya setempat.

Eno memasarkan batik ini secara sederhana, dari mulut ke mulut, hingga akhirnya menembus pameran di Milan dan New York.

Saat diwawancarai para peserta workshop Mendadak Wartawan, dia mengaku belajar membatik secara autodidak.

Berbekal ketekunan dan keinginan kuat melestarikan budaya di kampung halamannya.

“Belajarnya dari internet,” katanya.

Eno mengatakan, proses pembuatan batik cukup panjang dan butuh ketelitian.

Mulai dari nyungging (membuat pola di kertas), njaplak (memindahkan pola ke kain), nglowong (melukis pola dengan malam), ngiseni (mengisi pola dengan isen-isen), nyolet (mewarnai bagian tertentu), nembok (menutup bagian yang tidak diwarnai), ngelir (pewarnaan keseluruhan), hingga nglorod (melarutkan malam).

Di halaman kantor Jawa Pos Radar Jember, Eno menunjukkan kebolehannya dalam membatik.

Penampilan tersebut kemudian menjadi bahan liputan para peserta yang praktik membuat konten jurnalistik, kemarin (16/7).

Puluhan pelajar dan mahasiswa tampak antusias memperhatikan dan mewawancarainya.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap Batik Silobango semakin dikenal luas,” tutur Eno.

Kini, di tengah tantangan kurangnya SDM dan naiknya harga bahan baku, Eno tetap berkomitmen menghidupkan Batik Silobango bersama komunitasnya.

Dia yakin, selama tarikan canting masih menorehkan cerita, Batik Silobango akan terus hidup.

Menjadi simbol kejujuran dan kekuatan orang Arjasa yang mendunia.

“Sudah seharusnya batik tidak hanya menjadi ciri khas Indonesia, tetapi juga dilestarikan hingga ke generasi mendatang,” ujarnya. (yul/nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Radar Jember #batik jember #HUT ke-26 #go international #HUT Radar Jember