Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenalkan Anshori, Relawan SAR Watu Ulo Jember yang Tak Lelah Ingatkan Bahaya meski Kerap Diabaikan

Maulana RJ • Rabu, 16 Juli 2025 | 15:00 WIB

OGAH BERPANGKU TANGAN: Ansori Feri Nur Cahyo, relawan SAR di Pantai Watu Ulo yang masih aktif terlibat dalam berbagai evakuasi kebencanaan.Termasuk melakukan mitigasi.
OGAH BERPANGKU TANGAN: Ansori Feri Nur Cahyo, relawan SAR di Pantai Watu Ulo yang masih aktif terlibat dalam berbagai evakuasi kebencanaan.Termasuk melakukan mitigasi.

Radar Jember - Di balik keindahan Pantai Watu Ulo yang memesona, ada pihak yang berperan menjaga keamanan pengunjung.

Tugasnya kadang dianggap sebelah mata, padahal ini menyangkut urusan nyawa.

Seperti yang dilakoni Ansori Feri.

Kengerian ombak pantai selatan Jember sepertinya telah benar-benar membekas pada diri Ansori Feri.

Terlebih semenjak tragedi ritual maut di Pantai Payangan Jember, medio tahun 2022 lalu, yang merenggut 11 nyawa dari pengikut kelompok kepercayaan.

Nurani dan rasa kemanusiannya seperti terketuk sambil berandai-andai, apabila saat itu para korban bisa diingatkan lebih keras lagi, mungkin petaka itu tidak perlu terjadi.

Atau, kalaupun terjadi tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

“Tentu saya masih ingat betul petaka yang melibatkan aliran ritual-ritual itu,” kenang Ansori kepada Jawa Pos Radar Jember, (28/4/2025).

Pria paruh baya bernama lengkap Ansori Feri Nur Cahyo ini merupakan seorang relawan SAR di Pantai Watu Ulo, Ambulu.

Saat kebanyakan orang menghabiskan waktu bersama cucu di rumah saat sudah memasuki kepala lima, 54 tahun, Anshori seperti memilih jalan lain.

Ia menjadi relawan kebencanaan dan mitigasi bencana, bahkan masih aktif hingga saat ini.

Sepintas tidak ada yang istimewa dari perawakannya.

Tinggi, berkulit hitam legam, mengenakan topi dan sarung tangan.

Meski usianya sudah memasuki setengah abad lebih, penglihatannya juga masih tajam.

Meski pada malam hari sekalipun.

Maklum saja, aktivitas relawan memang tidak terikat waktu.

“Kalau malam, biasanya bareng temen-temen, di sini, sampai dini hari. Nanti paling tak tinggal pulang ke rumah sebentar, setelah itu balik lagi,” katanya.

Di rumahnya, di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Anshori memiliki istri dan anak.

Ia masih wira-wiwi membagi waktu, mana untuk keluarga, mana untuk tugas kemanusiaanya.

Ia juga diketahui memiliki toko oleh-oleh khas Watu Ulo, di sekitar Watu Ulo.

Menjual aneka kerajinan dari kulit, kerang, batu, kayu, aneka suvenir dan sebagian kaus anak-anak pantai.

Meski kecil dan tidak seberapa penghasilannya, ia sepertinya benar-benar orang yang legawa.

Latar belakang pendidikan terakhirnya hanya lulusan SMA.

Alhamdulillah cukup. Saya percaya, bisa hidup dan diberi cukup. Saya berbuat baik, dan bisa ibadah, gitu aja, ga neko-neko. Karena yang sedikit belum tentu kurang, banyak belum tentu cukup,” sambung dia, diselingi tawa.

Keterlibatan Anshori sebagai relawan kebencanaan bukanlah sebagai pendatang baru.

Tepatnya sudah 20 tahunan lebih.

Ia biasanya aktif memitigasi para pengunjung, khususnya di sekitar Pantai Watu Ulo, bersama relawan SAR lainnya.

“Kita tugasnya menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung. Beri imbauan, jangan mandi, jangan ngejar air, karena air yang mengejar kita, begitu. Meski kadang tidak digubris,” katanya, sambil menunjukkan megaphone yang sering ia tenteng saat bertugas.

Terlebih saat memasuki musim tinggi-tingginya ombak pantai selatan, tanggal pertengahan kalender Jawa, Anshori biasanya aktif berjaga tengah malam.

Sebab, di Watu Ulo, ada pula aktivitas pengunjung yang bermalam.

Khususnya saat weekend.

Titik yang paling ia pelototi yakni di bebatuan Watu Ulo, yang menjorok hingga ke laut.

Karena di titik itu lokasi yang paling disukai pengunjung mandi, meski berulang kali juga dilarang oleh relawan SAR setempat.

“Di situ bahaya, gelombang tinggi. Jadi memang harus sabar megedukasi dan beri imbauan ke wisatawan. Ini pantai selatan,” katanya.

Selama 20 tahun lebih pengalamannya menjadi relawan kebencanaan, Anshori sudah pasti telah memakan asam manis kehidupan seorang relawan.

Berbagai tipikal pengunjung sudah ia temui.

Dari mereka yang segan, sampai yang model acuh tak acuh, dan tak menggubris imbauan yang dia sampaikan, semua pernah ditemuinya. Setiap hari.

“Dari semua orang atau pengunjung yang sama amati, itu lebih susah mengatur orang mandi daripada yang ritual, atau mandi karena ritual,” sambung Anshori.

Hingga kini, aktivitasnya sebagai relawan SAR masih berlangsung.

Ia juga tercatat beberapa kali mengikuti pembekalan dan pelatihan kapasitasnya sebagai relawan SAR.

“Semua ini hanya tugas kepentingan kemanusiaan, bukan maksud apa-apa. Semoga kita semua diberikan kesehatan, termasuk ya saya ini,” imbuh pria murah senyum ini. (mau/dwi/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #mitigasi bahaya geologi #SAR #Pantai Watu Ulo #relawan kebencanaan