Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Modifikasi Sepeda Listrik Jadi Solusi Jualan Kopi Keliling di Jember Tanpa Tabrak Aturan Kendaraan, tapi Ini Tantangannya

Yulio Faruq Akhmadi • Senin, 16 Juni 2025 | 14:30 WIB
MOBILITAS TINGGI: Anas Robit memarkir sepeda listriknya untuk berjualan kopi keliling di Jalan Gajah Mada, kemarin (15/6/2025).
MOBILITAS TINGGI: Anas Robit memarkir sepeda listriknya untuk berjualan kopi keliling di Jalan Gajah Mada, kemarin (15/6/2025).

Radar Jember - Setahun belakangan, penggunaan sepeda listrik untuk menjual kopi keliling kian marak dijumpai di Jember.

Penjual kopi menggunakan sepeda listrik itu berasal dari beberapa brand.

Sebut saja Jago Coffee, Kopi Sejuta Jiwa, dan Kopi Kelingan.

Tak dimungkiri, hadirnya sepeda listrik dimanfaatkan oleh sejumlah brand kopi lokal untuk menjangkau lebih banyak pelanggan.

Brand-brand tersebut umumnya memodifikasi motor listrik dengan menambahkan gerobak di depan.

Hal ini menjadi langkah cerdas untuk menjangkau banyak pelanggan.

Sebab, apabila memodifikasi kendaraan motor konvensional, maka mereka akan menabrak regulasi larangan memodifikasi motor tanpa izin.

Namun, memodifikasi sepeda listrik untuk berjualan tak sepenuhnya menjamin kemudahan.

Salah seorang penjual kopi keliling, Anas Robit, menyampaikan, para penjual harus memperhitungkan lokasi mana saja yang akan mereka tuju dan lalui.

Sebab, sepeda listrik yang dimodifikasi dengan gerobak tak bisa melintasi semua medan, terutama tanjakan ekstrem.

Selain itu sepeda listrik juga memiliki daya terbatas yang bisa habis sewaktu-waktu.

“Merek kopi ini merupakan perintis, kami termasuk yang pertama memodifikasi listrik. Jadi, sepeda listrik yang dipakai model lama. Jadi, kalau tanjakan harus turun, kalau dinaiki tidak akan kuat, soalnya gerobaknya saja beratnya mencapai 100 kilogram.” katanya.

Anas bercerita, dirinya bekerja selama 8 jam per hari.

Biasanya mulai mengambil sepeda listrik di kantornya, di perumahan Taman Gading, Kelurahan Tegal Besar, Kecamatan Kaliwates.

Kemudian, dia akan berjualan di sekitaran Jalan Gajah Mada hingga alun-alun.

Namun, sebagian besar waktunya digunakan untuk diam di suatu lokasi.

Sebab, jika dia banyak melakukan mobilisasi akan berisiko kehabisan daya baterai.

“Ini jarak tempuhnya sekitar 8-10 kilometer, meski ada indikator baterainya, tetap waswas kalau ke tempat jauh,” katanya.

Selama 4 bulan berjualan kopi keliling menggunakan sepeda listrik hasil modifikasi, Anas mengaku pernah sekali kehabisan baterai di jalan.

Hal itu karena baterai yang dia pakai saat itu merupakan baterai yang sudah mulai rusak.

Menurut Anas, baterai sepeda listrik hanya efektif dalam setahun.

Setelahnya, baterai akan cukup boros.

“Jadi, pas awal-awal jualan saya sering bawa baterai cadangan. Untungnya baterainya bisa diganti dengan mudah.” katanya.

Kendati demikian, menurutnya, sepeda listrik merupakan kendaraan yang cukup aman untuk digunakan sehari-hari, termasuk untuk jualan.

Sebab, sepeda listrik tidak didesain untuk melaju dengan kecepatan tinggi.

Selain itu, apabila terkena hujan dan lumpur, menurut Anas, mesinnya tidak rusak.

“Palingan konslet hanya lampunya atau klaksonnya yang mati. Kalau mesinnya aman, tapi tidak bisa kencang,” katanya. (yul/c2/nur)

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #motor listrik #sepeda listrik #kopi keliling