SUMBERSARI, Radar Jember - Beberapa tahun lalu wacana reaktivasi pasar gencar dilakukan.
Namun, sampai saat ini ada sejumlah pasar yang terbengkalai. Di antaranya, Pasar Petung, Kecamatan Bangsalsari, dan Pasar Tegalboto di Kecamatan Sumbersari.
Alhasil, ekonomi UMKM tidak berputar pesat di lokasi ini.
Sudah dibangun dengan dana besar, namun minim manfaat.
Di lokasi Pasar Petung, kemarin, kondisinya sepi.
Bahkan, saat Jawa Pos Radar Jember datang ke lokasi, sore hari, tiada yang bisa ditemui.
Wawancara pun bisa dibilang tidak bisa dilakukan karena ketiadaan manusia di lokasi itu.
Hanya kucing yang masih bisa terlihat di lokasi ini.
Sementara itu, di Pasar Tegalboto, kemarin, hanya ada satu penjual.
Delia, pedagang asal Kelurahan Gebang, membuka warung makan di ruko nomor 9.
Ia sekaligus mengelola dagangan jajanan milik rekannya di ruko nomor 8.
mangkrakBaca Juga: Sudah Lama Bangunan Ini Mangkrak, Sekarang Malah Diusulkan Jadi Lokasi Sekolah Rakyat? Dua Lokasi Lain Juga Diajukan
Delia membuka warung di pasar ini sejak Agustus lalu dan sampai saat ini masih terbilang mangkrak.
Dia mengaku mendapatkan informasi dari temannya yang lebih dulu berjualan di pasar ini.
Lantas, memutuskan membuka usaha yang juga, yang sebelumnya dilakukannya di sebuah perumahan di Kelurahan Tegal Besar.
Saat didatangi Jawa Pos Radar Jember, perempuan paruh baya itu tengah sibuk menyiapkan banyak pesanan nasi kotak mahasiswa.
sepiBaca Juga: Sepi Seperti Kuburan, Potret Pasar di Jember yang Tak Diminati Warga Tersisa Enam Pedagang
Dia mengaku, target pasarnya memang kalangan mahasiswa.
Meski tampak sepi lalu lalang orang, dengan modal jaringan usahanya dulu, dia sudah punya pelanggan tersendiri.
"Makanya urusan harga saya harus menyesuaikan," katanya.
Tidak ada uang sewa yang selama ini harus dibayarkan.
Delia mengungkapkan, setiap bulan hanya membayar uang retribusi kepada mantri pasar yang setiap paginya biasa ngantor.
"Sampai sekarang retribusinya saya bayar Rp 250 ribu," bebernya.
Dia sangat menyayangkan bangunan pasar lantai dua itu tak terurus dengan baik.
Menurutnya, saat ini makin banyak toko kelontong dan warung sayur 24 jam.
Sehingga masyarakat lebih memilih berbelanja di tempat-tempat terdekat dengan alasan kepraktisan.
Wajar jika pasar mulai sepi peminat.
Apalagi jika mau menghidupkan pasar seperti Pasar Tegalboto. Tantangannya cukup berat.
"Pedagang juga pasti mikir kalau mau jualan di sini, soalnya sepi," katanya.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, kondisi bangunan Pasar Tegalboto masih cukup bagus.
Di pojok kanan depan pasar terdapat bangunan tak permanen warung kopi yang sedang tutup.
Beberapa orang seperti kurir biasanya beristirahat di pelatarannya.
Di sekitar bangunan, tumbuh pepohonan rimbun sehingga hampir menutupi bangunan.
Pada malam hari, kondisinya benar-benar sepi dan gelap.
Beberapa orang mengaku bahwa suasananya menjadi lebih seram. (sil/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh