Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Soal Fenomena Mahasiswa Manfaatkan Momentum Ramadan Jualan Takjil, Begini Komentar Dosen FISIP Universitas Jember

Radar Digital • Senin, 10 Maret 2025 | 22:24 WIB

 

 

Photo
Photo

FENOMENA mahasiswa yang memanfaatkan momen bulan Ramadan dengan berjualan takjil guna mendapatkan cuan tambahan sudah banyak dijumpai di sekitaran kampus Unej.

Aktivitas itu pun mendapat respons dari akademisi.

Nurul Hidayat, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, memberikan komentarnya mengenai fenomena tahunan ini.

Menurut Nuhi, sapaan akrabnya, bagi mahasiswa yang memilih berdagang takjil pada bulan Ramadan, tak hanya mengisi waktu luang.

Namun, memberikan mahasiswa kesempatan belajar tentang realitas kehidupan melalui pengalaman berjualan langsung.

Di samping itu, mereka juga bisa mendapatkan tambahan uang dari hasil usahanya.

"Kegiatan ini cukup positif, karena mahasiswa bisa terhindar dari perbuatan yang tidak produktif, menghindari pemborosan waktu, dan belajar langsung tentang kehidupan. Jika usaha mereka berhasil, mereka juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan," jelas dia.

Dirinya menambahkan bahwa fenomena berjualan takjil ini dapat menciptakan interaksi positif antara mahasiswa dengan masyarakat sekitar.

Selain sebagai peluang usaha, kegiatan ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat lebih dalam pada kehidupan sosial masyarakat.

Serta memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan takjil saat berbuka puasa.

Meski begitu, dirinya juga mengingatkan agar mahasiswa tidak terjebak dalam kegiatan berjualan yang berlebihan, sehingga mengganggu konsentrasi mereka dalam perkuliahan.

"Berjualan takjil itu tidak salah. Namun, perlu diingat bahwa tujuan utama kuliah adalah untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. Jika berjualan hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang, itu tidak masalah,” lanjut dia.

“Tetapi, bisa menjadi masalah jika kegiatan berjualan menyita waktu mahasiswa, menyebabkan kelelahan, dan mengganggu fokus mereka dalam perkuliahan," tegasnya.

Di sisi lain, dirinya juga memberi saran agar mahasiswa tak hanya berpaku pada berjualan makanan atau minuman saja.

"Jika memungkinkan, kegiatan ini bisa lebih variatif. Mahasiswa bisa mengembangkan usaha mereka dengan menyediakan hiburan, mengadakan bazar, atau acara lain yang dapat menarik minat masyarakat. Kegiatan yang lebih beragam ini tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa, tetapi juga bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” beber Nuhi.

“Jika bisa, kegiatan ini juga dapat bersifat berkelanjutan. Tak hanya saat Ramadan, tetapi juga pada waktu lain, sehingga memberikan dampak jangka panjang bagi mahasiswa," tambahnya.

Fenomena mahasiswa berjualan takjil selama bulan Ramadan ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya belajar di bangku kuliah.

Namun, juga mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki untuk mendukung kehidupan sosial dan ekonomi mereka, dengan tetap mengutamakan keseimbangan antara usaha dan pendidikan. (c2/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #UNEJ #takjil #Mahasiswa