CARA untuk melindungi ternak dari penyakit mulut dan kuku (PMK) belum diketahui banyak peternak maupun pedagang sapi. Hal itu karena sosialisasi penanganannya juga belum menyentuh semua pemilik sapi.
Jawa Pos Radar Jember, kemarin, menemui Arik Efendi, peternak sekaligus pedagang sapi dari Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari. Dia memiliki cara unik nan kreatif dalam mengatasi PMK. Yaitu menggunakan sabun cuci piring untuk menjaga kebersihan kandang.
Menurut dia, kebersihan menjadi kunci utama dalam mencegah penularan virus. Apalagi pada musim hujan seperti sekarang yang membuat penyebaran penyakit makin cepat. "Kandang itu harus bersih. Kalau cara saya, rutin menyemprot Sunlight atau Mama Lemon, terus pakai kapur bangunan juga. Jadi, lalat gak berani datang," ujarnya.
Arik menceritakan, setiap hari dia berkeliling dari satu pasar ke pasar yang lain. Mulai dari Ajung, Kalisat, Mayang, Tempurejo, hingga Ambulu dia datangi secara bergilir. Kendati demikian, sejak merebaknya PMK, pasar menjadi sepi dan transaksi menurun. Berdampak langsung pada keuntungan yang dia peroleh. "Hari ini, Sabtu, di Ajung. Besok Minggu di Mayang. Di tiap pasar biasanya transaksi bisa belasan ekor sehari. Tapi sekarang, satu sapi saja sulit laku," keluhnya.
Lebih lanjut, Arik mengaku setuju apabila ada langkah pemerintah untuk menutup sementara beberapa pasar guna mengendalikan PMK. Dikatakan, selama pasar ditutup, petugas dari Dinas Peternakan melakukan penyemprotan disinfektan untuk memastikan kebersihan lingkungan. Kendati demikian, menurutnya, sebagian pedagang merasa keberatan karena penutupan pasar mengurangi peluang keuntungan. "Itu kan cuma sementara. Paling cuma tiga pasar. Setelah itu buka lagi," ujarnya.
Di sisi lain, Arik mengapresiasi langkah pemerintah yang turun langsung ke kandang para peternak sepertinya untuk memberikan vaksinasi gratis. "Mantrinya datang ke kandang. Jadi, mereka tidak melakukan vaksinasi di pasar. Takutnya calon pembelinya malah kabur." jelasnya.
Meski begitu, Arik menyebut, sapi miliknya juga terdampak PMK. Dua sapi mati mendadak, tanpa gejala. "Yang satu saya beli delapan juta, satunya sepuluh juta. Dua-duanya mati dalam waktu berdekatan. Sejak kejadian itu saya baru perhatian betul pada kebersihan kandang," ujarnya.
Dia juga mengurangi jumlah sapi yang dipelihara. Dulu, ia biasa memelihara enam ekor sapi. Namun, saat ini hanya satu atau dua saja untuk mengurangi risiko.
Selain itu, harga sapi yang anjlok juga semakin mempersulit para pedagang. Bahkan, sapi yang terlihat kurang sehat sama sekali tidak diminati pembeli. "Sekarang yang dilihat hanya kesehatannya. Ukuran atau bobot sapi sudah tidak penting lagi," katanya.
Arik juga mengeluhkan lambatnya respons pemerintah dalam menangani PMK. Dia menilai vaksinasi seharusnya disosialisasikan sebelum virus merebak dan membunuh sapi-sapi milik warga. "Mantri sapi pasti sudah tahu musim hujan bikin virus cepat menyebar. Tapi, pemerintah baru bertindak setelah banyak sapi mati. Kasihan yang cuma punya satu sapi. Yang sapinya mati sudah pasti rugi besar," pungkasnya. (yul/c2/nur)
Editor : M. Ainul Budi