Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gara-gara Jembatan Putus, Siswa di Jember Bertaruh Nyawa Menyeberang Pakai Getek Agar Bisa Sekolah

Alvioniza • Kamis, 16 Januari 2025 | 04:13 WIB

 

AYO SEKOLAH: Sejumlah siswa asal Desa Mulyorejo dibantu warga setempat dan polisi untuk menyeberangi Kali Sanen di Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, saat pulang sekolah, kemarin. M ADHI SURYA/RADAR
AYO SEKOLAH: Sejumlah siswa asal Desa Mulyorejo dibantu warga setempat dan polisi untuk menyeberangi Kali Sanen di Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, saat pulang sekolah, kemarin. M ADHI SURYA/RADAR
  

JEMBER, RADARJEMBER Banyak siswa asal Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, yang bersekolah di Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo, harus berjuang menyeberangi sungai saat berangkat dan pulang sekolah.

Hal itu terpaksa dilakukan siswa SD dan SMP, karena satu-satunya jembatan yang ada di Kali Sanen tersebut putus diterjang banjir.

Pada saat itu, banjir menghantam kawasan setempat pada 22 Desember 2024 lalu. Sejak itu pula, jembatan yang menjadi akses satu-satunya hilang diterjang banjir.

Warga setempat yang beraktivitas pun banyak yang harus menyeberangi sungai. Termasuk para bocah yang menimba ilmu di desa tersebut, mereka harus menyeberangi sungai.

Aktivitas berangkat dan pulang sekolah dilakukan setiap hari oleh siswa. Sejak jembatan putus, siswa harus naik getek.

Itu karena banyak siswa asal Desa Mulyorejo yang harus bersekolah di seberang sungai, yaitu di SDN Sanenrejo 05  dan SMPN 2 Tempurejo.

Siswi SMPN 2 Tempurejo, Sinta Safitri, mengatakan, selama terjadi banjir di Desa Sanenrejo, desanya sempat terisolasi karena siswa tak bisa berangkat sekolah.

Tak ingin ketinggalan materi pelajaran, ia bersama rekan-rekannya memaksakan diri untuk tetap aktif belajar dan pergi ke sekolah.

“Sebelum ada getek biasanya digendong oleh warga setempat,” terangnya. Getek kayu itu disebut dibuat secara swadaya oleh warga setempat.

Sinta mengaku tetap semangat untuk belajar, meski perjalanan menuju ke sekolah terhambat karena harus bergantian menyeberangi sungai. “Kami tetap semangat,” ungkapnya.

Sinta menyebut, tidak ada jalan lain, sehingga, meski ada rasa takut saat menyeberang, rasa itu harus dilawan demi bisa sekolah. “Selain itu, kami harus jalan kaki tiga kilometer dari tepi sungai ke sekolah,” imbuhnya.

Biasanya, saat ada jembatan penghubung, dia dan siswa lain diantar menggunakan sepeda motor. Namun, karena jembatannya putus dan hilang terbawa banjir, siswa terpaksa berjalan kaki, meski waktu tempuhnya semakin lama.

“Kalau pakai motor berangkat pukul 6.00 sampai sekolah pukul 7.00. Sekarang bisa lebih, hampir pukul 8.00 baru sampai sekolah,” ucapnya.

Guru SDN Sanenrejo 05 , Ahmad Rausi, mengaku salut melihat semangat siswa asal Dusun Baban Tengah, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, tersebut. Setiap hari, mereka harus menyeberangi sungai untuk berangkat ke sekolah.

Meski sering datang terlambat, pihak sekolah sangat memahami kesulitan yang dihadapi siswa. Selain itu, mereka juga diperbolehkan tidak mengenakan sepatu saat pelajaran berlangsung.

“Kami memberi kelonggaran. Kalau kondisinya tidak memungkinkan, siswa dapat mengerjakan tugas dari rumah melalui sistem daring,” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah relawan juga ada yang turun ke lokasi untuk membantu siswa, kemarin. Mereka membawa perahu karet dan menyeberangkan siswa.

Dengan kondisi ini, diharapkan jembatan di Kali Sanen itu bisa segera dibangun agar siswa bisa menyeberang dengan aman. Warga juga beraktivitas dengan nyaman.

Kapolsek Tempurejo AKP Heri Supadmo mengatakan, anggota kepolisian bersiaga untuk membantu keamanan penyeberangan siswa dan warga sembari menunggu proses pembuatan jembatan baru.

“Secara bergantian satu anggota membantu warga untuk menyeberang secara bergantian,” terangnya. (dhi/c2/nur)

Editor : Alvioniza
#jembatan putus #Jember #siswa #Sekolah