Di tengah perubahan zaman yang kian pesat, pesantren tak lagi hanya menjadi tempat bagi santri untuk mendalami ilmu agama. Kini, banyak pesantren yang juga memberikan keterampilan dunia usaha kepada santri sebagai bekal untuk masa depan mereka. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Ihya’us Sunnah Alhasany di Dusun Sumbercanting, Desa Tugusari, Kecamatan Bangsalsari.
YULIO, Tugusari – Radar Jember
RUANG berlantai keramik dengan cat tembok putih menjadi ruang terakhir dalam memproses produksi kopi di Ponpes Ihya’us Sunnah Alhasany. Dilihat dari dekat, mesin kopi tersebut rupanya bukan untuk roasting. Namun, mesin packing yang mengemas kopi bubuk secara saset.
Pimpinan pesantren, Kiai Imam Bukhori, menyampaikan, pesantrennya memiliki tiga pilar utama, yakni sebagai pusat kajian keilmuan agama, umum, sosial, dan dakwah. Pusat pengembangan ekonomi keumatan serta tujuan wisata religi. “Santri mendapatkan edukasi tentang pertanian, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pascapanen,” jelasnya.
Dengan lahan kopi seluas 1.500 hektare, sangat mendukung usaha pesantren. Proses produksi melibatkan tidak hanya santri, tetapi juga alumni dan masyarakat. Beberapa alumni bertanggung jawab atas pengoperasian mesin roasting, grinding, dan packaging. Hal itu memastikan kualitas produksi tetap terjaga.
Santri diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam bisnis kopi. Artinya, untuk memberikan mereka pengetahuan dan keterampilan berwirausaha. Saat ini, pesantren mampu mengolah 5 hingga 8 ton kopi per bulan. Jumlah tersebut bisa menghasilkan 6 ribu hingga 12 ribu kotak kopi yang didistribusikan ke berbagai kota di Indonesia. Seperti Riau, Makassar, Tangerang, Bogor, Bandung, dan beberapa kota lain. “Selain itu, kami sudah mengekspor ke Malaysia. Saat ini sedang dalam persiapan untuk ekspor ke New Zealand,” sebut Kiai Imam.
Keistimewaan kopi pesantren ini tidak hanya pada kualitasnya. Tetapi, juga proses produksinya yang diawali dengan zikir Ratib Al-Haddad yang dilakukan oleh para santri empat kali setiap harinya. "Kami juga menyediakan kopi khusus untuk kesehatan, untuk health dan vitality," tambah Kiai Imam.
Keuntungan dari usaha kopi ini memberikan dampak luar biasa. Pesantren mampu menanggung biaya hidup dan pendidikan gratis bagi 100 santri pendaftar pertama. Selain itu, para santri tersebut juga menerima pesangon sebesar Rp 100.000 per bulan. Masyarakat setempat pun merasakan manfaat ekonomi, seperti harga jual kopi yang lebih tinggi Rp 3.000 di atas harga pasar. Serta kesempatan kerja di dua pabrik kopi pesantren.
Selain produksi kopi, pesantren ini juga mengembangkan beberapa unit usaha lain. Seperti handicraft, peternakan kambing, ayam, lele, serta taman wisata. Berkatnya, pesantren ini meraih nominasi sebagai pesantren unggulan oleh Bank Indonesia. “Kami ingin mencetak generasi yang kaya akan pengetahuan dunia dan akhirat. Serta membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” tambah Kiai Imam. (yul/c2/dwi)
Editor : Radar Digital