Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gumuk Jember Masih Dalam Ancaman, Berikut Kata Aktivis Lingkungan

Radar Digital • Minggu, 20 Oktober 2024 | 16:56 WIB
TETAP BERAKTIVITAS: Alat berat terlihat berada di sekitar gumuk yang ditambang, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, beberapa waktu lalu.
TETAP BERAKTIVITAS: Alat berat terlihat berada di sekitar gumuk yang ditambang, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, beberapa waktu lalu.

 

Lindungi Gumuk Jember

SUMBERSARI, Radar Jember – Gumuk atau disebut bukit kecil menjadi ciri khas topografi di Jember. Bahkan, Jember juga disebut sebagai Kota Seribu Gumuk. Namun, sebutan itu mulai luntur, karena aktivitas eksploitasi gumuk secara berlebihan.

Aktivis lingkungan yang peduli tentang Gumuk di Jember pun terus eksis sampai saat ini. Sebab, gumuk menjadi nilai penting untuk lingkungan, termasuk perlindungan alami dari ancaman bencana. Oleh sebab itu, masyarakat harus diedukasi tentang pentingnya melestarikan gumuk agar tidak semakin hilang.

Aktivis lingkungan, Wahyu Giri, menceritakan, sejak kedatangannya di Jember tahun 1985, dia mencatat hampir tidak ada fenomena puting beliung. Namun, pada tahun 2011, kejadian puting beliung mulai muncul. Hal itu disinyalir akibat hilangnya ratusan gumuk yang dulunya mengatur sirkulasi angin. “Gumuk bisa menjadi pelindung alami terhadap angin kencang, termasuk angin badai. Ketika menghilang, menyebabkan perubahan iklim lokal dan memicu cuaca ekstrem,” jelas pria asal Jawa Tengah itu.

Pria yang akrab disapa Cak Giri itu mengungkap, hilangnya gumuk juga memengaruhi kualitas pertanian tembakau. Menurutnya, petani kini harus menggunakan waring atau jaring pada tanaman tembakau untuk menciptakan mikroklimat, sehingga bisa menghasilkan daun tembakau berkualitas. “Dulu tidak perlu pakai waring, karena keberadaan gumuk menjadi pelindung agar angin dan iklim stabil,” jelas ALB Mapensa Faperta Unej itu.

Giri yang sejak dulu juga menggagas Save Gumuk juga menyoroti hilangnya potensi wisata alam akibat rusaknya gumuk. Beberapa daerah lain, seperti Yogyakarta, telah berhasil mengembangkan situs geologis menjadi objek wisata. Sementara di Jember, gumuk justru dibongkar untuk pertambangan. Menurutnya, Jember bisa mengambil pelajaran dari daerah tersebut dan mengembangkan gumuk sebagai aset wisata edukasi.

Ia menekankan pentingnya pembenahan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) agar gumuk terlindungi secara hukum. Saat ini, posisi gumuk dalam RTRW masih lemah, dan tanpa perlindungan yang jelas, serta aktivitas pertambangan terus berlanjut. “RTRW sebagai payung hukum harus terus dipantau,” terangnya.

Salah satu inisiatif yang patut diapresiasi adalah langkah Mapensa, kelompok mahasiswa pecinta alam, yang membeli gumuk di Antirogo untuk dilestarikan. Namun, menurut Giri, upaya yang lebih besar diperlukan, termasuk pendekatan edukasi kepada pemilik gumuk untuk memanfaatkan potensi ekonomi melalui pariwisata tanpa merusak lingkungan. (yul/c2/dwi)


 

 

Editor : Radar Digital
#Jember #Gumuk