Petani tembakau tak hanya menyumbang pendapatan cukai ke negara. Namun, juga menyerap banyak tenaga kerja. Di balik jasanya itu, mereka belum mendapat imbalan setimpal. Bahkan, mereka berjibaku menghadapi persaingan pasar.
MAULANA,
Rambipuji, Radar Jember
TERIK matahari sudah mulai menyengat kulit. Sejumlah buruh tani tembakau terlihat masih belum beranjak dari ladang. Mereka ada yang membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman tembakau cerutu dan ada yang sudah beristirahat. Mereka biasanya disebut sebagai buruh cangkul.
Di areal persawahan di Dusun Pasar Anyar, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, sebagian buruh tani itu mengecek satu per satu tanaman tembakau. "Ya, harus dicek gini, biar tahu tembakaunya sehat. Kalau tidak sehat, bisa rusak, nanti harganya juga rusak," tutur salah seorang ibu-ibu buruh tani tembakau.
Sedikitnya, ada sekitar 9 buruh tani tembakau yang saat itu menggarap satu petak lahan tanaman tembakau. Mereka bekerja membagi peran.
"Nanti kalau sudah dibersihkan rumputnya, ini dipupuk, sambil diairi pake disel," sahut buruh tani lainnya, sambil menunjuk ke sebuah sumur di persawahan tersebut.
Itu yang di sawah. Di rumah petani, ada warga yang tugasnya memilah daun tembakau untuk proses jemur. Mayoritas merupakan ibu-ibu rumah tangga dan warga setempat. Aktivitas ini, warga menyebutnya sebagai buruh sujen.
Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, seorang petani tembakau dapat mempekerjakan belasan hingga puluhan orang per hari, hanya untuk buruh sujen dan buruh pacul ini.
Tergantung luasan tanaman tembakau petani.
"Luasan tanaman tembakau saya setengah hektare. Meski pertumbuhannya bagus, tapi kendalanya sulit air, minim hujan. Jadi saya disel untuk mengairi. Sehari bisa habis 4-5 liter (BBM, Red)," aku Sholeh, petani tembakau asal Desa Nogosari.
Tembakau milik Soleh berjenis Besuki Na-Oogst, yang merupakan bahan baku cerutu premium white burley, dengan pasarnya yang sudah menembus mancanegara. Ia biasanya menjual tembakau miliknya ke perusahaan mitra di Jember, yang juga penyuplai ke perusahaan cerutu ternama di Indonesia.
Tembakau milik Sholeh saat itu baru berusia sekitar 3 minggu, dan menyisakan beberapa pekan lagi untuk bisa dipanen. Namun, ia tampak gusar.
Sebab, meski tembakaunya tergolong premium, harga daun emasnya itu di pasaran mulai ugal-ugalan alias anjlok.
"Tahun kemarin itu masih Rp 14-15 juta per kuintal. Sekarang dengan mutu yang bagus saja, itu hanya Rp 9 juta per kuintal. Bahkan ada yang lebih jatuh lagi, Rp 5-6 juta per kuintal," gerutunya.
Ia menduga anjloknya harga daun emas ini lantaran permainan pasar yang dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain itu, faktor musim tanam serentak yang dilakukan perusahaan tembakau dalam jumlah sangat besar juga membuat petani tembakau kelimpungan.
Sebab, hal itu memengaruhi harga sewa lahan yang melonjak berkali-kali lipat.
Dari belasan juta per hektare setahun, menjadi Rp 24-25 juta per hektare, hanya untuk per musim.
Hal itu kemudian berdampak pada pembelian perusahaan terhadap tembakau petani.
"Meski perusahaan ada kemitraan dengan petani, harga ambilnya terlalu murah. Katanya kualitasnya turun, lah. Ya, jelas, kami bukan tandingan perusahaan. Jadi, hasil panen ini bisa balance saja, ya, tidak dapat apa-apa. Artinya, bisa balik modal saja sudah untung," ketusnya.
Sebagai petani tembakau, Sholeh mengaku prihatin atas kondisi tersebut. Baginya, tembakau menyumbangkan pendapatan cukup besar kepada negara. "Kalau tidak ada tembakau di Jember, berapa ribu orang yang kemudian menganggur, yang tidak terlibat langsung di tembakaunya. Tidak hanya buruh, pembuat gudang, pekerja kayu-kayu, tenaga siram, pacul, sujen, itu banyak. Jadi, penyerapan tenaga kerja sangat luar biasa dari tembakau ini," katanya.
Besarnya selisih antara ongkos produksi yang dikeluarkan dengan harga jualnya, diakui Sholeh juga dirasakan oleh banyak petani lainnya. Ia berharap pemerintah lebih memedulikan keberadaan petani tembakau di Jember agar dapat terus berkontribusi terhadap Kota Cerutu ini, dalam penyediaan lapangan kerja dan menyumbangkan pendapatan ke negara. (c2/nur)
Editor : Radar Digital