JEMBER, RADARJEMBER.COM - Tujuh tahun Museum Huruf berdiri di Jember dan menjadi satu-satunya di dunia. Museum yang digagas dari hasil swadaya para pendirinya di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, itu telah mengoleksi 35 jenis aksara. Baik dari Nusantara maupun dunia.
Sejak berdiri pada 30 Agustus 2017, Museum Huruf konsisten melakukan edukasi dan memainkan peran sebagai pembuka cakrawala budaya yang tak ditemukan di tempat lain.
Ada tiga aksara dunia yang dikoleksi, yakni aksara Hanzi dari Cina, Hieroglif dari Mesir, dan Cuneiform dari Babilonia.
Sementara, puluhan aksara lainnya yang tersebar di Nusantara, seperti Jawa, Kawi, Pallawa, hingga Ulu.
Enam pelopor pendiri, dua perintis di antaranya adalah Ade Sidiq Permana yang saat ini sebagai direktur, dan Erik Wijayanto, pemilik rumah yang ruang tamunya disulap menjadi Museum Huruf.
Selebihnya adalah para relawan yang silih berganti membantu menghidupkan museum. Termasuk yang turut menjadi pemandu museum dan tersertifikasi sesuai standar nasional.
Ade menyebut, kekuatan keyakinan dan kepercayaan diri menjadi bekal untuk membuat Museum Huruf tetap eksis.
Asas manfaatnya di bidang pendidikan dan pengembangan sosial masyarakat diakuinya menjadi kekuatan terbesarnya.
“Jangan sampai Museum Huruf tutup. Sebab, ini adalah identitas bangsa,” ucap pria 49 tahun itu.
Setiap hari tak pernah sepi pengunjung. Baik dari kalangan pelajar, pejabat, maupun turis mancanegara pernah singgah.
Ade merasa museum adalah ruang dialektika dan pendidikan setara bagi semua golongan, termasuk kaum disabilitas.
Dari Museum Huruf, terbaca histori peradaban melalui aksara. Sebab, ada empat babak sejarah yang tertuang di dalamnya.
Mulai dari masa praaksara, aksara, sistem tulisan, hingga font atau gaya huruf modern.
“30 Agustus nanti kami akan deklarasikan Hari Aksara Nusantara dan kami upayakan bisa dihadiri raja atau sultan Keraton Yogyakarta,” bebernya (sil/c2/nur)
Editor : Alvioniza