Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

UNIK! Melihat Keunikan Festival Tumpeng Klepon di Salah satu Desa di Jember, SEPERTI APA ITU?

Radar Digital • Selasa, 28 Mei 2024 | 01:19 WIB
KEARIFAN LOKAL: Masyarakat Desa Semboro saat mengarak ratusan tumpeng berisikan klepon, saat memperingati hari jadi desa, Minggu lalu (27/5). (ULUM)
KEARIFAN LOKAL: Masyarakat Desa Semboro saat mengarak ratusan tumpeng berisikan klepon, saat memperingati hari jadi desa, Minggu lalu (27/5). (ULUM)

SEMBORO, Radar Jember - Pernah mencicipi klepon? Makanan mungil yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah.

Jika belum, klepon khas asal desa di Jember ini bisa menjadi referensi untuk diburu. Khususnya oleh para pencinta kuliner.

Yah, jajanan tradisional yang khas dengan tampilan warna cerah - mencolok ini sudah dikenal lama oleh masyarakat. Khususnya di desa-desa.

Menariknya, di salah satu desa di Jember, tepatnya di Desa/Kecamatan Semboro, Jember, klepon dibuat dalam berbagai ukuran, lalu ditumpuk menjadi satu dalam bentuk tumpeng yang jumlahnya ratusan.

Bukan tanpa alasan. Warga setempat membuat klepon itu karena bertepatan dengan hari jadi desa setempat yang ke 117.

Pemerintah desa setempat bahkan telah mengukuhkan festival tumpeng klepon itu sebagai bagian dari tradisi/kebudayaan desa.

"Festival Klepon asal Desa Semboro memang unik, ini turun temurun dan dilestarikan tiap tahun. Selain sebagai budaya, juga sebagai cikal bakal desa Semboro sendiri dengan mengelar parade atau festival tumpeng klepon dengan berjalan kaki keliling desa," jelas Kepala Desa Semboro, Antoni, (26/5).

Saat itu, festival yang sudah menjadi agenda tahunan desa tersebut berlangsung cukup meriah.

Ratusan masyarakat ikut serta dalam festival tersebut. Mereka mengusung tumpeng klepon itu di kepala, dan mengarak keliling desa sejauh sekitar 5 kilometer.

Iring-iringan tumpeng klepon dipanggul warga dengan berbagai ukuran itupun sukses membuat ribuan pasang mata terpukau.

Para peserta dari perangkat desa dan masyarakat setempat, juga kompak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah.

Sambil berjalan kaki, mereka juga melantukan doa-doa permohonan keselamatan bersama sekaligus rasa syukur atas karunia nikmat dari sang Maha Kuasa.

Kata Antoni, ada filosofi mendalam dalam klepon dan perayaan festival tersebut.

"Ini memasuki tahun ke 117, kirab budaya tumpeng klepon ini adalah filosofi dari kerukunan masyarakat dari berbagai latar belakang tapi disatukan dalam sebuah wadah, ibarat kata jajanan klepon ini kan lengket dan di dalamnya ada rasa manis gula, itu adalah salah satu simbol keharmonisan masyarakat kami," jelas dia.

Untuk menambah kemeriahan festival tersebut, pemerintah desa setempat juga memberikan sejumlah door prize kepada masyarakat yang membawa tumpeng klepon paling unik.

Baik dari segi tampilan, warna, maupun penyajian.

Tari-tarian tradisional khas warga pedesaan juga mengiringi kirab tumpeng klepon saat itu.

Tak hanya masyarakat setempat, warga dari beberapa desa tetangga juga tak hadir merapat, seolah tak mau melewatkan festival yang hanya berlangsung setahun sekali itu.

"Selain membawa tumpeng klepon, kami memakai baju adat, tujuannya untuk selamatan desa, dan menjadi ikon Desa Semboro," imbuh Lilik, salah satu peserta kirab dan festival klepon saat itu. (mau)

Editor : Radar Digital
#Jember #festival