Sepeninggal sang ayah, keinginan Edo Wardana untuk bisa beribadah ke Tanah Suci tak surut.
Meski pekerjaannya jualan cilok, dia banting tulang untuk mengumpulkan uang demi pelunasan biaya haji.
Mimpi itu kini terealisasi.
MAULANA, Mayang, Radar Jember
ANTARA percaya dan tidak. Mungkin ini masih terngiang dalam benak Edo Wardana, begitu namanya masuk dalam daftar prioritas calon jemaah haji (CJH) yang akan berangkat beberapa hari lagi.
Pria yang tinggal di Dusun Klayu, Desa/Kecamatan Mayang, Jember, ini menjadi salah satu dari ribuan CJH asal Jember yang akan segera berangkat ke Tanah Suci pada akhir minggu ketiga Mei nanti.
"Alhamdulillah, saya bisa berangkat haji tahun ini," akunya dengan santun saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.
Kisah inspiratif Edo bermula dari keinginan mendiang sang ayah.
Namanya Miskali. Saat itu ayah Edo diketahui telah mendaftar haji sejak tahun 2011, dan telah membeli porsi/kuota haji senilai Rp 25 juta.
Sedianya sang ayah terjadwal berangkat haji tahun ini. Namun, takdir berkata lain.
Sang ayah telah lebih dulu dipanggil menghadap Sang Maha Kuasa pada tahun 2020 karena sakit.
Karena itu, Edo menggantikan porsi sang ayah, dan rupanya terjadwal berangkat haji tahun ini.
Kata Edo, mendiang ayahnya memang memiliki keinginan kuat untuk menuaikan rukun Islam kelima itu, meski pekerjaan ayahnya sehari-hari hanya sebagai tukang penarik becak.
Namun, keluarga Edo memiliki penghasilan lain yang diperolehnya dari sawah yang disewakan kepada penggarap, atau sistem gadin (dalam bahasa Madura).
"Bapak saya bekerja sebagai tukang penarik becak. Jadi, porsi haji itu sebenarnya punya bapak saya. Berhubung bapak saya sudah meninggal, akhirnya dilanjutkan ke saya," katanya.
Ujian belum selesai di situ. Pemuda berusia 22 tahun ini baru lulus SMK tahun 2020 silam, di tahun yang sama sepeninggal ayahnya. Untuk melanjutkan keinginan ayahnya itu, Edo harus bekerja.
Dia banting tulang menjual cilok. Dia biasanya mangkal di sebuah klinik kesehatan, di Kecamatan Mayang.
"Pekerjaan saya itu penjual cilok," katanya, meyakinkan.
Ujian untuk bisa berangkat ibadah haji benar-benar dirasakan pemuda dua bersaudara ini.
Sejak baru lulus sekolah, selama empat tahun dia berjualan cilok, Edo harus menabung dan pandai-pandai menyisihkan hasil menjual cilok untuk biaya pelunasan haji yang nilainya mencapai total sekitar Rp 60 juta.
"Saat melunasi untuk berangkat haji sebesar Rp 35 juta, saya harus menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan cilok," jelasnya.
Hasil memang tidak akan mengkhianati usaha. Selama empat tahun, Edo mampu melunasinya dan berangkat tahun ini sebagai pengganti ayahnya.
Meski sebagai pengganti ayahnya, pria kelahiran tahun 2002 ini mengaku senang karena di usia muda dia sudah mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji.
Sedianya, Edo akan berangkat ke Tanah Suci melalui KBIH Al-Haramain Sumberwringin, Sukowono, Jember, pada tanggal 19 Mei 2024.
"Saya sudah nabung uang buat pelunasan haji itu, dan alhamdulillah, bisa dilunasi pelunasan hajinya, dan berangkat tahun ini," imbuh Edo. (c2/nur)
Editor : Radar Digital