Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Setelah Viral, Pecel Legendaris di Stasiun Garahan Jember Ini Banyak Pengunjung, Ketua RT dan RW Dimintai Keterangan, Oleh Siapa?

Radar Digital • Sabtu, 13 April 2024 | 19:01 WIB
SEMAKIN BANYAK YANG DATANG: Pelanggan yang datang ke warung Bu Ida, di depan Stasiun Grahan, Silo dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. (Jumai/ Radar Jember)
SEMAKIN BANYAK YANG DATANG: Pelanggan yang datang ke warung Bu Ida, di depan Stasiun Grahan, Silo dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. (Jumai/ Radar Jember)

JEMBER, RADARJEMBER.ID - Viralnya tarikan retribusi yang dilakukan oleh oknum kepada pemilik mobil dan truk yang hendak ke warung pecel Garahan, depan Stasiun Garahan, Desa Garahan, Kecamatan Silo, Jember, berbuntut panjang.

Akhirnya Babinkamtibmas Desa Garahan, Kecamatan Silo memangganggil Ketua RT dan RW setempat.

Karena diduga pemasangan papan retribusi itu atas perintah Ketua RT dan RW setempat.

Hal ini karena jalan yang sudah dipaving itu rusak akibat banyak kendaraan roda empat dan truk yang menuju warung didepan Stasiun Garahan tersebut.

Sehingga dengan kesepakatan itulah, dipasang papan retribusi untuk mobil dan truk yang menuju warung itu. Retribusi dinilai memberatkan pembeli yang hendak makan pecel di warung pecel Garahan.

Karena warung itu sudah puluhan tahun ada sejak kereta api  hingga kini tidak lagi berhenti di stasiun garahan.

AIPDA Dani Anton Wahyudi mengatakan, pihaknya baru tahu setelah tarikan retribusi itu viral di media sosial.

Pihaknya langsung memanggil ketua RT dan RW setempat. Karena pemasangan papan dengan tulisan "retribusi mobil Rp 10.000 dan dumtruk Rp 15.000." 

Dengan alasannya penarikan retribusi untuk mobil dan truk itu yang hendak makan ke warung bu Ida (Warung pecel Garahan, red) harus bayar terlebih dulu. Karena akibat banyak kendaraan roda empat dan truk itu jalan yang sudah dipaving menjadi rusak.

Penarikan retribusi itu sempat berjalan dan banyak yang bayar. Karena petugas yang jaga di mulut jalan menuju stasiun itu memaksa untuk bayar dulu kalau mau makan ke warung pecel di stasiun, kata Anton menirukan ucapan dari petugas jaga.

Baca Juga: [EKSKLUSIF] Cerita Mudik Megawati Hangestri Pertiwi ke Jember, Rutin Ngegym Hingga Ingin Quality Time Dengan Sang Ibunda (Jilid 1)

"Setelah kita memanggil pengurus RT dan RW itu diberi pemahaman kalau tarikan itu adalah pungli dan itu melanggar hukum," kata Babinkamtibmas Desa Garahan, Kecamatan Silo.

Setelah diberi pemahaman kalau cara itu adalah pungli, papan retribusi itu akhirnya tidak dipasang lagi. "Papan retribusi itu sudah tidak ada pada Jumat (12/4/2024) siang setelah salat jumat," katanya.

Masih menurut Anton, sebenarnya menurut ketua RT dan RW, penarikan retribusi itu sudah jadi kesepakatan dengan RT, RW dan warga setempat karena jalan itu rusak dengan banyaknya mobil dan truk yang ke warung bu Ida.

"Maka dengan cara itulah ditarik retribusi untuk perawatan jalan yang rusak," kata Babinkamtkbmas kepada Jawa Pos Radar Jember.

Pihaknya bukan hanya memanggil Ketua RT dan RW saja, tetapi bu Ida pemilik warung yang ada di depan Stasiun diberi pemahaman.

Bahkan menurut Anton, setelah sempat viralnya dengan tarikan retribusi itu langsung mengecek kembali apakah masih ada papan itu. "Setelah dicek ternyata papan itu sudah tidak ada," pungkasnya.

Sementara Jasuli, warga Kalisat yang sempat datang ke warung pecel bu Ida, bukan hanya sekali tetapi sudah bertahun-tahun Makan di warung pecel depan stasiun ini lebih nyaman.

"Yang datang ke warung Bu Ida ini sudah menjadi pelanggannya. Kalau orang baru tidak mungkin mau ke stasiun apalagi jalan masuknya masih jauh. Selain makan nasi pecel pincuk, saya juga senang karena bagi saya ini merupakan destinasi wisata kuliner. Sambil makan sambil lihat stasiun apalagi bersamaan dengan kereta api lewat," pungkasnya. (jum/bud)

Editor : Radar Digital
#Jember #pecel garahan jember #kuliner jember #pecel