Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cerita Peracik Parfum di Ambulu Jember, Demi Wewangian, Indra Pencium Sempat Hilang

Radar Digital • Jumat, 9 Februari 2024 | 15:30 WIB
KREATIF: Yessica Putri meracik bibit parfum dari daun nilam di gerai miliknya, di Ambulu.(AZZQAL AZQIYA’/RADAR JEMBER)
KREATIF: Yessica Putri meracik bibit parfum dari daun nilam di gerai miliknya, di Ambulu.(AZZQAL AZQIYA’/RADAR JEMBER)

Yessica Putri adalah peracik minyak wangi dari daun nilam.

Hobinya mengumpulkan parfum membuatnya terpacu untuk meraciknya sendiri.

Demi menemukan wangi yang elegan, dia pun sudah melakukan eksperimen ratusan racikan.

AZZQAL AZQIYA’, Ambulu, Radar Jember

BERINOVASI merupakan suatu hal yang penting dalam membangun industri parfum. Terlebih dalam industri parfum lokal.

Salah satunya yakni minyak wangi dari daun nilam dengan nama lain yang dilekatkan parfum mangat bee.

Siang itu cuaca mendung. Tampak orang-orang berlalu lalang menjalankan aktivitas mereka masing-masing.

Sewaktu-waktu angin berembus menyentuh kulit seakan-akan berirama. Dari kejauhan terlihat toko kecil dijaga seorang perempuan yang sedang sibuk meracik cairan wangi untuk dijual.

Perempuan tersebut adalah Yessica Putri, seorang peracik minyak wangi dari daun nilam yang masih bertahan dengan perkembangan dunia parfum modern.

Sambil menengok ke luar toko, perempuan asal Kecamatan Ambulu itu tersenyum manis menjawab ucapan salam seraya mempersilakan masuk.

“Mari, silakan masuk,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sambil membereskan resep parfum yang baru saja diracik, perempuan yang akrab dipanggil Yessica ini mulai membuka cerita demi cerita.

Sesekali dia menengadah ke atas sembari tersenyum dan tertawa memecahkan suasana hening ruangan toko yang dipenuhi dengan botol bibit parfum.

Awal dia mulai meracik minyak wangi berbahan baku daun nilam dimulai pada tahun 2018. Kemudian, mendekati tahun 2019 Yessica mengikuti pelatihan yang digelar oleh salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam sektor wewangian di Probolinggo.

Ketekunan itu menjadi langkah awalnya belajar meracik parfum.

“Karena saya hobi mengumpulkan parfum, tahun 2018 mulai kepikiran meracik parfum sendiri menggunakan daun nilam yang informasinya daun itu bisa dibuat parfum,” ungkapnya.

Lambat laun, informasi demi informasi dia cari, hingga kemudian mengetahui bahwa minyak wangi dari daun nilam ternyata kualitas terbaik kedua di dunia.

Daun yang memiliki nama ilmiah Pogostemon cablin benth itu berupa dedaunan layaknya semak-semak yang memiliki ketinggian kurang lebih satu meter.

Minyak nilam itu, sambung Jessica, mutlak dibutuhkan dalam industri parfum sebagai bahan fixative pengikat aroma.

Sehingga wanginya bisa bertahan lebih dari 12 jam.

Kemudian, racikan itu pun dimulai. Berkat kerja keras akhirnya dia mampu menghasilkan sebuah aroma yang khas dan memikat.

Dari situlah dia berpendapat, hasil tidak akan mengecewakan usaha yang keras. Bak kata pepatah yang sering kita dengar.

“Ketika mengetahui hal itu, saya langsung mencoba-coba meracik minyak nilam hingga menemukan harum yang pas,” jelasnya.

Bahkan, saat mencari aroma khas dari daun nilam, Yessica sempat merasakan indra penciumnya tidak berfungsi.

Karena terlalu banyak menghirup wewangian tanpa diimbangi dengan penetralisasi seperti bau biji kopi. Tentu hal itu tidak membuat dirinya patah semangat hingga Yessica mampu menemukan wangi yang pas dan digemari banyak orang. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Jember #Features #parfum