RADARJEMBER.ID – Kereta api menjadi salah satu transportasi yang digemari banyak orang. Bagaimana tidak, fasilitas dan kenyamanannya semakin meningkat pesat.
Kereta api kini beroperasi dengan penuh ketertiban, tidak ada lagi desak-desakan di dalam gerbong apalagi pedagang asongan.
Di Jember sendiri, pengguna transportasi kereta api bayang dari kalangan mahasiswa. Hal ini menunjang ramainya stasiun Jember Kota.
Namun, tidak perlu khawatir karena stasiun Jember kota kini sudah luas dan banyak kursi yang nyaman untuk menunggu kereta. Juga tidak lagi kepanasan karena dipasangi atap.
Di balik rapi dan nyamannya stasiun kereta api di Jember, terdapat sejarah yang panjang dari berdirinya hingga beberapa kejadian tak terlupakan.
Stasiun Jember dibuka pada 1 Juni 1897 oleh perusahaan kereta api Staatsspoorwegen milik Belanda.
Jalur kereta api Klakah – Jember ini dibuka dengan tujuan yang menguntungkan bagi pihak Belanda. Komoditas yang dihasilkan oleh Jember, yakni hasil perkebunan, gula, karet, dan tembakau dikirimkan ke Pelabuhan Panarukan yang kemudian diteruskan ke Rotterdam, Belanda.
Stasiun Jember juga menjadi saksi bisu tragedi menyedihkan pada tahun 23 November 1941. Puluhan orang tewas disekap di gerbong kereta yang berangkat dari Bondowoso.
Peristiwa ini dikenang sebagai “Tragedi Gerbong Maut Bondowoso”. Saat itu, sekitar 100 orang Indonesia yang dijadikan tahanan oleh Belanda dibawa menuju Surabaya dengan tiga gerbong yang tertutup rapat.
Akhirnya puluhan orang meregang nyawa saat gerbong berada di bawah terik matahari selama tiga jam. Para tahanan tersebut sempat meronta meminta air dan udara untuk bertahan hidup. (mm7/bud)
Editor : Radar Digital