SUMBERSARI, Radar Jember – Menjelang Pemilu Serentak 2024, warga Indonesia dan Jember perlu berhati-hati dalam memilih pemimpin. Baik pemilu legislatif maupun eksekutif. Sebab, akan menentukan nasib bangsa untuk lima tahun ke depan.
Mantan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015–2019, Saut Situmorang, memperingatkan kepada mahasiswa untuk mengikuti hati nurani dalam memilih pemimpin. “Negeri ini sekarang banyak dipenuhi justifikasi-justifikasi. Juga dipenuhi drama. Banyak yang seolah-olah enggak tahu, seolah-olah menurut konstitusi. Semuanya sandiwara. Human being-nya itu sudah rusak. Padahal Anda tidak boleh bernegosiasi dengan ketidakadilan,” kata Saut dalam acara talk show perubahan dengan tema Catur Politik, Sirkulasi Poros dalam Restorasi Preferensi Politik.
Dalam menakar kriteria pemimpin, Saut mencontohkan Presiden Amerika Serikat ke-40 Ronald Reagan. Kala itu Ronald Reagan menandatangani kontrak penjualan senjata yang dilarang Parlemen Amerika. Namun, Ronald mengaku kontrak itu dalam pengaruh obat flu. “Nah, di sini masalahnya. Kalau Anda jadi pemimpin, Anda harus detail. Jangan sampai Anda menandatangani dokumen sembarang seperti ini,” katanya.
Sementara, dalam memberantas korupsi Pemerintahan Indonesia tetap seperti ini, bonus demografi 2045 Indonesia tidak akan membuahkan hasil apa-apa. “Sampai tahun 2500, kalau tetap seperti ini saja cara kita memberantas korupsi, ya, gak ada artinya itu Indonesia Emas 2045. Jangan pilih pemimpin berdasarkan baliho,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, pengamat politik, Rocky Gerung, mengajak mahasiswa di Jember untuk menyikapi tentang ide bonus demografi untuk Indonesia Emas 2045. Pada acara yang dimoderatori mahasiswa FKIP Unej, Bintun Maulidyatul Chabibah, Rocky mengatakan, mahasiswa harus memilih pemimpin yang bisa mewujudkan impian Indonesia Emas 2045 tersebut.
“Kalau di tahun 2045 generasi kalian mendapat pendapatan lima sampai enam kali lipat dari sekarang, itu baru tahun emas. Bagaimana mungkin memulai tahun emas tapi dimulai dari pemimpin kaleng-kaleng,” ujar pria yang cukup dikenal dengan ide-ide kontroversialnya itu.
Dikatakan, selama ini tidak ada bukti kuat yang menandakan bahwa akan ada Indonesia Emas pada tahun 2045. Menurutnya, bonus demografi harus dibandingkan dalam kadar yang kompleks. “Kalau mengacu pada pendapatan, mungkin generasi kalian ini akan tumbuh pendapatannya empat kali lipat di 2045. Tapi, bonus demografi itu perbandingannya harus antara kapasitas generasi Anda dengan generasi yang setara Anda di negara-negara maju Asia, itu minimalnya,” jelasnya.
Acara ini diadakan BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember (FKIP Unej), Kamis (9/11), di sebuah kafe yang ada di Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember. Pada kesempatan itu, juga hadir aktivis pemerhati sosial, Habil Marati, dan analis hukum, Refly Harun. (mg1/c2/nur)
Editor : Radar Digital