SUMBERSARI, Radar Jember - Rekayasa lalu lintas (lalin) di area kampus akhir-akhir ini menyita perhatian publik. Pro dan kontra terus bermunculan. Namun demikian, apa yang sebenarnya diinginkan Pemkab Jember yang secara tiba-tiba menerapkan sistem satu arah (SSA)?
Setelah sepekan SSA Jalan Jawa lalu berlanjut di tiga ruas lain yang memutari Universitas Jember (Unej), banyak yang mencela karena berbagai kepentingan yang dimiliki. Alih-alih mempertanyakan adakah agenda besar yang sebenarnya sudah tersusun di balik penerapan SSA.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya menyampaikan, penerapan SSA sejatinya bukanlah hal mendadak. Namun, sudah masuk dalam perencanaan sejak lama, yang sebelumnya juga sudah didahului dengan mengubah desain parkir sejajar menjadi paralel.
Pemkab Jember memiliki konsep besar dalam revitalisasi daerah kampus menjadi kawasan edukasi. Agus menjabarkan, tujuan jangka panjang itu tidak lantas dicapai dalam waktu sekejap. Penerapan SSA adalah bagian langkah awalnya. Skema inilah yang belum dipahami masyarakat dan memang sengaja tidak dipublikasikan terlebih dahulu.
Jember menjadi salah satu kota pendidikan dengan banyaknya perguruan tinggi. Di antaranya yang paling besar kampus negeri yang ada di Tegalboto. Tak dimungkiri, kini menjadi pusat kehidupan kampus yang dikelilingi ribuan pelajar juga masyarakat umum lain. Sebagai kota pelajar, maka menjadi keharusan bagi pemkab untuk mengubah tatanan kawasan menjadi lebih edukatif. “Jadikan ecogreen, kawasan hijau,” terang Agus saat berada di Jawa Pos Radar Jember, pagi kemarin (11/10).
Menurutnya, sudah waktunya gaya hidup berubah. Tatanan kota yang lebih ramah dengan layanan publik yang nyaman. Harapannya ke depan, angkutan kota (angkot) atau transportasi publik lainnya bisa menjadi pilihan utama kembali. “Tugas pemerintah untuk mengembalikannya,” ucapnya.
Solusi yang sedang digarap adalah membangun pola baru masyarakat. Kebiasaan memakai kendaraan pribadi bisa berangsur-angsur bergeser. Utamanya di sekitaran kampus. Kendaraan umum berbayar berupa angkot. Rencana yang sudah tersusun, tambahnya, pemkab akan menyiapkan angkutan kawasan kampus yang lebih ekonomis hingga gratis bagi mahasiswa dan pelajar.
Sebelum itu, kata Agus, arus lalin dibuat lancar terlebih dahulu, agar tercipta kenyamanan. Begitu juga dengan konsep penertiban PKL yang masih tak dibeberkan kapan waktunya. Barulah memasukkan angkutan kawasan edukasi. “Arahnya ke sana, menciptakan lingkungan hijau di kawasan kampus,” jelasnya.
Ritme itu diawali dengan menerapkan SSA sebagai salah satu cara rekayasa lalin. Pola pikir masyarakat diubah pelan-pelan. Dimulai dengan memberikan kenyamanan berlalu lintas. “Membentuk mindset dari tidak nyaman menjadi nyaman,” pungkasnya. (sil/c2/nur)
Editor : Radar Digital