PATRANG, Radar Jember - Inflasi di Jember dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan yang cukup baik. Pengendaliannya menjadi tugas dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terdiri atas organisasi perangkat daerah (OPD) pemkab, serta berbagai instansi terkait lainnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Tri Erwandi mengatakan, angka perkembangan inflasi bulanan Kabupaten Jember dari Januari hingga September menunjukan tren yang cukup baik. Sebab, hanya berada di bawah angka 0,3 saja. Namun, sempat meningkat akibat terjadi kenaikan harga beras dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, dia juga menjelaskan, inflasi tahunan Jember lebih baik jika dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut, menurutnya, karena TPID terus melakukan upaya pencegahan dan penanganan inflasi, salah satunya melalui program Si Rambo. “Misalnya ada kenaikan harga, langsung dapat diredam pekan berikutnya,” imbuhnya.
Tim tersebut berisi stakeholder terkait, mulai dari OPD yang bersentuhan dengan pertanian, perikanan, ekonomi, dan lainnya. Ditambah instansi luar OPD, di antaranya perwakilan migas dan Bank Indonesia. Hal tersebut tentunya untuk membantu kestabilan inflasi.
Tri Erwandi juga menyampaikan bahwa tugas BI Jember dalam inflasi adalah melalui pengendalian suku bunga. Di sisi lain, mereka secara tidak langsung berperan dalam mengendalikan penurunan dan kenaikan harga. Yaitu, membantu pemerintah dengan memberikan pandangan terarah guna menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sebab, jika tidak dijaga, daya beli masyarakat bisa jadi menurun. Sehingga, uang yang beredar akan menurun. “Kalau pendapatannya tetap, harganya naik. Masyarakat kan daya belinya akan semakin menurun,” imbuhnya.
Penurunan jumlah uang beredar di masyarakat tentunya dapat menyebabkan deflasi. Masyarakat akan cenderung menyimpan uangnya di bank. Permintaan akan barang juga akan menurun, sementara produksi barang terus meningkat. Hal tersebut tentunya juga akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, jumlah uang beredar diatur oleh BI agar sesuai kapasitas ekonomi.
Dikonfirmasi terkait kenaikan harga tarif PDAM tahun lalu, Tri menerangkan, memang berdampak pada inflasi tahun sebelumnya. Namun, bukan hanya berkaitan dengan harganya, melainkan nilai konsumsi masyarakat juga berpengaruh di dalamnya. “Sekarang sudah terkendali dan tidak naik lagi,” terangnya.
Dari hal tersebut, tarif PDAM dinilai sebagai salah satu dari 358 komoditas, memiliki andil yang cukup bersih. Meski demikian, hal tersebut tidak lagi berdampak pada tingkat inflasi di Jember saat ini. Sebab, tidak kembali terjadi kenaikan harga. “Hanya satu titik di November tahun lalu itu, karena kita satu-satunya di Jatim waktu itu,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital