Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Panti Kanaan Jember, Bangun Keberagaman yang Harmonis untuk Selamatkan Generasi Bangsa

Radar Digital • Jumat, 29 September 2023 | 17:00 WIB

KOMPAK: Panti Kanaan mampu membangun kekompakan pemuda dari berbagai etnis.
KOMPAK: Panti Kanaan mampu membangun kekompakan pemuda dari berbagai etnis.

Jiwa yang multikultural sudah melekat dengan keseharian mereka. Ini mengarah pada nasionalisme yang sesungguhnya. Setiap hari, ada pembiasaan tutur yang harus memakai bahasa Indonesia. Kecuali saat berinteraksi sesama teman asal daerah, bahasa mereka akan berbeda-beda.

MOTIVASI besar Ratna membangun keberagaman hingga harmonis ini adalah untuk menyelamatkan generasi bangsa. Sebab, salah pergaulan sering kali menjerumuskan anak pada rusaknya moral sampai suramnya masa depan.

Kebebasan kadang juga banyak disalahartikan menyesatkan pola pikirnya pada tindakan-tindakan yang merugikan. Akibatnya, generasi bangsa bisa menomorsekiankan sekolah, kecanduan gawai, game online, minum-minuman keras, narkoba, atau seks bebas. Itu yang tidak diinginkannya terjadi pada anak-anak di Panti Kanaan.

Menurut Ratna, upayanya itu tak mudah, tapi bisa. Perempuan lima anak itu telaten membangun kedisiplinan. Layaknya pesantren, anak-anak panti harus memperoleh izin dari para pendamping ketika akan keluar. Biar pun sekadar membeli sesuatu di depan gerbang. Izin belajar kelompok pun harus jelas tempat dan batas waktunya.

Latar belakang keluarga mereka bermacam-macam saat masuk panti. Ada yang memang yatim, ada yang orang tua lengkap tapi ekonomi rendah. Ada juga yang orang tuanya telah berpisah. Ketika masuk, ada yang sudah menginjak SMA, SMP, SD, TK, dan yang terbaru seorang bayi dari Jakarta. Mereka yang berasal dari luar pulau diantarkan ke Jember karena faktor situasi lingkungannya yang tidak memungkinkan untuk menjadi tempat bertumbuh dan berkembang.

Dia bercerita, lahan di daerah kelahiran anak-anak panti cukup luas. Skill bertani dan beternak diberikan sejak dini agar saat kembali nanti bisa mengolah tanahnya sendiri. Pekarangan di sekitar panti tak ada yang lekang dari tanaman. Sayuran, buah-buahan, bahkan ada kolam ikan dan ternak ayam bangkok. Semuanya organik, karena mereka juga diajarkan membuat pupuk sendiri.

Setiap pukul 05.00, semuanya sudah bangun dan melakukan doa Subuh bersama. Dilanjutkan sarapan dan berangkat ke sekolah secara mandiri. Sore harinya, anak-anak sudah memiliki tugas dan rutinitasnya sendiri. Menyapu, membersihkan pekarangan, mengumpulkan sampah untuk pupuk, menyiram tanaman, dan aktivitas positif lainnya yang kelak akan disadarinya sebagai proses hidup.

Malam hari adalah waktu one on one. Sesi curhat masing-masing anak kepada pendamping. Momen ini menjadi kesempatan Ratna dan teman-teman pendamping memasuki hati mereka. Memberikan pengajaran tentang respons diri menghadapi situasi dan kondisi yang bertentangan. Bagaimana bersabar, mengelola emosi, dan memberikan arahan yang benar jika anak jujur mengakui kesalahannya di hari itu.

Beberapa bulan terakhir, panti yang sudah ada sejak tahun 1996 itu memiliki sanggar. Ratna merasa perlu membentuk Sanggar Kanaan agar mudah berbaur dengan pihak luar. Bakat terpendamnya dikuak kembali, menularkan skill menarinya kepada anak-anak. Debut pertamanya saat acara agustusan di lingkungannya. Lagu Wonderland Indonesia mengilhaminya untuk menciptakan gerakan tari. Menggambarkan betapa beragamnya Nusantara, begitu juga anak-anak panti. Tepat pukul sembilan malam, suasana panti harus sunyi dan tak boleh ada satu pun yang ada di luar kamar.

Perasaan seperti dipenjara saat ini sebenarnya merupakan proses penempaan diri dan akan berbuah manis di masa depan. Itulah yang pernah dirasakan Ratna saat menjadi bagian dari anak-anak panti pada tahun 2000 silam. Dia berharap, kelak anak-anak panti akan menjadi generasi tangguh, sukses di dunianya masing-masing, dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan. “Ketika sadar dan lihat, itu adalah proses hidup yang luar biasa. Pelajaran yang tidak ada nilainya,” terangnya sembari mengenang masa lalu.

Menjalankan roda kehidupan di Panti Kanaan juga menemui berbagai masa sulit yang coba diramunya menjadi rasa syukur. Ratna tidak mengandalkan donatur sebagai penyambung ekonomi. Dipercayainya, Tuhan selalu mendengarkan apa yang sedang dibutuhkan melalui banyak jalan. Saat ini pun, sekitar 30 orang dari etnis Jawa, Madura, Nias, Flores, Kupang, hingga Papua kompak menjadi satu dan memahami makna nasionalisme yang sesungguhnya. “Tuhan tidak pernah tutup mata,” pungkasnya. (c2/nur)

 

 

Editor : Radar Digital
#panti asuhan #keberagaman