JUBUNG, Radar Jember - Tanaman produk rekayasa genetika (PRG) atau transgenik saat ini dipercaya menjadi solusi untuk ketahanan pangan. Akademisi dan peneliti dari perguruan tinggi mulai banyak mengembangkan ilmu bioteknologi pertanian menghasilkan varietas-varietas tanaman baru yang lebih resistan.
Beberapa tahun ini, Universitas Jember (Unej) mulai membesarkan namanya sebagai pusat pengembangan bioteknologi. Bermula dari keberhasilan meluncurkan hasil riset berupa tebu transgenik tahan kekeringan, kini dipercaya PT Syngenta menggawangi sosialisasi jagung hibrida NK Pendekar Sakti.
Rektor Unej Iwan Taruna mengatakan, sebagai perguruan tinggi, hal itu merupakan bentuk aktualisasi peran. Penelitian dan pengembangan tentang bioteknologi tidak terpusat pada satu komoditas saja. Masuknya jagung varietas baru di Jember menjadi bagian tanggung jawab sebagai pusat penelitian, inovasi, pendidikan, dan pelatihan. “Kolaborasi dengan industri agar bisa dimanfaatkan, penyuluhan kepada petani juga sebagai peran tridarma perguruan tinggi,” ucapnya, siang kemarin (13/9).
Pihaknya telah menjadikan kawasan Agrotechnopark di Jubung sebagai lahan demplot jagung hasil bioteknologi tersebut. Dari setengah hektare demplot, telah dibuktikan perbedaan antara hasil jagung dari benih konvensional dengan benih jagung PRG. “Sudah kami buktikan langsung dan demo demplot kepada petani dari hasil panen hari ini (kemarin, Red),” tutur Iwan di tengah area Agrotechnopark Unej, kemarin (13/9).
Sementara itu, Marketing Head Syngenta Indonesia Imam Sujono mengungkapkan keyakinannya kepada Unej sebagai pelopor tanaman bioteknologi bisa berkolaborasi dan memberikan penyuluhan kepada petani. “Unej sudah menghasilkan tebu tahan kekeringan,” tuturnya.
Disebutkan, keunggulan ganda yang dimiliki jagung varietas NK Pendekar Sakti toleran terhadap herbisida glifosat dan tahan hama penggerek batang. Benih varietas tersebut telah disisipi gen BT toxin dan tahan glifosat. Ujungnya bisa meningkatkan produktivitas hasil jagung hingga sepuluh persen. “Bisa mencapai 12 ton per hektare,” sebut Imam.
Secara morfologi, tidak ada perbedaan antara varietas jagung konvensional dengan hibrida. Namun, proses budi daya pada jagung hasil konversi tiga varietas tersebut telah dibuktikan lebih mudah dan murah. Sebab, tidak memerlukan insektisida penggerek batang dan herbisida. (sil/c2/dwi)
Editor : Radar Digital