JEMBER LOR, Radar Jember – Rencana peremajaan wajah Alun-Alun Jember tahun ini batal dilaksanakan. Ini memastikan, dalam beberapa waktu ke depan kondisi jantung Kabupaten Jember tersebut belum bisa bersolek, seperti yang diharapkan oleh banyak orang.
Gagalnya pemugaran alun-alun itu karena berbagai pertimbangan. Di antaranya karena waktu pengerjaan yang dianggap mepet dan banyak kegiatan di pusat kota tersebut. Namun, alun-alun direncanakan akan dipercantik pada 2024 mendatang.
Seperti diketahui, wajah Alun-Alun Jember akan dipoles dengan pagu anggaran Rp 7,3 miliar. Untuk merealisasikannya, pemkab sempat melakukan tender. Namun, karena persoalan administrasi, tender harus dilakukan ulang. Akan tetapi, hal tersebut belum terlaksana, sehingga menyebabkan proyek tersebut dipastikan tidak dapat terlaksana tahun ini.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jember Rahman Anda menjelaskan, retender renovasi alun-alun tidak akan dilanjutkan. Itu karena pengerjaannya tidak akan dilakukan tahun ini. Tetapi, direncanakan lagi untuk dilaksanakan pada 2024. “Kalau melihat waktu dan proses pengadaan, penyedianya juga. Kami mempertimbangkan itu,” katanya.
Rahman juga mengatakan, jika peremajaan dipaksakan dilakukan tahun ini, maka diperkirakan waktunya tidak akan cukup hingga akhir tahun. Banyaknya kegiatan yang akan dilakukan di pusat kota dalam beberapa waktu mendatang juga memengaruhi waktu pengerjaan.
Dikonfirmasi terkait anggaran yang akan digunakan, dia memastikan akan memakai APBD 2024. Namun, belum bisa dipastikan berapa besarannya. Meski demikian, Rahman mengaku masih melihat dan menyesuaikan ketersediaan anggarannya. “Belum dapat diprediksi sekarang,” imbuhnya.
Terpisah, Ketua Komisi A DPRD Jember Tabroni mengaku belum mendapatkan laporan dari DPRKPCK terkait adanya perubahan rencana peremajaan alun-alun. Dia mengaku hanya mengetahui adanya tender ulang beberapa waktu lalu. “Tidak ada penjelasan dan informasi yang kami dapatkan,” tuturnya.
Kegagalan revitalisasi, menurutnya, menunjukan adanya perencanaan yang dibuat main-main dan tidak serius untuk melakukan hal tersebut. Jika alasannya karena banyaknya acara, Tabroni menegaskan, harus dipahami bahwa tempat itu merupakan tempat berkumpulnya masyarakat. Karena itu, seharusnya masuk dalam proses perencanaan.
Peremajaan alun-alun dianggap hal yang wajar. Sebab, tempat itu merupakan etalase atau wajah dari Jember. Namun, desain dan perencanaan harus dilakukan dengan baik. Sehingga setiap detail desainnya harus diperhatikan dan memiliki makna tersendiri. “Kalau rehab kan ada aturannya setiap berapa tahun sekali,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital