Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Cara Zainollah Ahmad Lestarikan Budaya Jember, Terbitkan Buku tentang Sadeng secara Tuntas

Safitri • Selasa, 29 Agustus 2023 | 19:15 WIB

 

AKRAB: Zainollah Ahmad (kiri), penulis buku Babad Bumi Sadeng, berbincang dalam acara podcast Jawa Pos Radar Jember yang membahas Jember era klasik.
AKRAB: Zainollah Ahmad (kiri), penulis buku Babad Bumi Sadeng, berbincang dalam acara podcast Jawa Pos Radar Jember yang membahas Jember era klasik.
 

JEMBER, RADARJEMBER.ID - Keberadaan Jember saat ini tentu tidak lepas dari sejarah panjang yang terjadi sebelumnya. Namun, belum semuanya terungkap dan diketahui oleh masyarakat secara umum. Sebab, selama ini biasanya penulisan sejarah kabupaten yang berbatasan dengan Banyuwangi itu hanya berupa kajian skripsi dan makalah, yang merupakan tugas dari mahasiswa di perguruan tinggi.

Melihat hal tersebut, Zainollah Ahmad tidak tinggal diam, karena khawatir sejarah panjang yang sudah terjadi tidak dapat dinikmati oleh para generasi penerus. Salah satu cara yang dilakukan oleh pria tersebut adalah membukukan sejarah tersebut. Saat ini yang sudah diterbitkan adalah buku berjudul Babat Bumi Sadeng. Proses panjang pembuatannya ia lewati dengan teliti.

Butuh proses panjang dalam pembuatan buku sejarah tersebut. Maklum saja, untuk menulis isinya dibutuhkan data yang akurat, serta sesuai dengan kejadian pada masa lampau. Namun, hal itu dilakukan secara sabar dan teliti, karena keprihatinan terhadap Jember yang tidak memiliki sejarah yang jelas dan tersosialisasi dengan baik. "Sejak 2014 kumpulkan remah-remah, lalu ditulis secara utuh. Mulai dari Jember era prasejarah, era klasik, hingga era kolonial awal," kata Zainollah ketika ditemui pasca- podcast di Jawa Pos Radar Jember.

Bagi Zainollah, buku Babad Bumi Sadeng merupakan karya yang istimewa. Sebab, meski digarap sejak 2014, namun baru bisa diterbitkan pada 2020 lalu. Di dalamnya menceritakan perjalanan Jember dari era prasejarah awal, paleolitikum hingga imperium. Selain itu, untuk membuatnya diperlukan penelitian lebih dari lima tahun. Kemudian, revisi penulisannya diperlukan waktu kurang lebih satu tahun. "Belum di penerbit mau apa tidak mencetaknya. Karena penerbit orientasinya melihat pasar, apakah bukunya akan laku atau tidak," ujarnya.

Penulisan buku sejarah tentu lebih sulit dari penulisan buku pada umumnya. Mengingat penulisnya harus mencari sumber utama dari informasi yang akan disampaikan kepada khalayak umum. Hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi pencinta sejarah satu ini. “Kalau tantangan dalam hal narasi bisa dibilang tidak ada. Tantangan sebenarnya adalah mencari sumber dan referensi yang kuat,” pungkasnya. (c2/nur)

Editor : Safitri
#Jember #sadeng