Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Potret Pergaulan Bebas dan Perkawinan Anak, Usia 15 Tahun Hamil, Anak Kedua Tak Selamat

Radar Digital • Rabu, 23 Agustus 2023 | 22:20 WIB

PENUH PENYESALAN: EN menceritakan pengalaman masa lalunya yang kelam, karena bergaul bebas dan terjebak dalam perkawinan anak.
PENUH PENYESALAN: EN menceritakan pengalaman masa lalunya yang kelam, karena bergaul bebas dan terjebak dalam perkawinan anak.
 

Pertengkaran orang tua bisa menjadi penyebab hancurnya masa depan anak. Pada masa itu, anak bisa merasa kesepian dan berujung pada pergaulan bebas. Seperti dialami perempuan berinisial EN. Rokok, miras, putus sekolah, sampai seks bebas pun pernah menjadi pelarian saat dia masih kelas 2 SMP. Kini, dia menyadari betul bahwa apa yang pernah dialaminya itu sesuatu yang salah.

 HARI Jumat, sekitar tiga tahun yang lalu, menjadi hari yang kelam dan tak pernah bisa dilupakan oleh EN selama hidupnya. Kala itu, usianya masih 15 tahun. Tak ada yang menyangka, perempuan asal Jember itu hamil. Ini terjadi karena pergaulan bebas yang dulu tak pernah disadarinya.

Sejak EN kelas 2 SMP, dia mengaku mulai merasa kesepian. Hatinya kosong. Tak punya teman untuk berbagi cerita. Ibu dan ayahnya sudah berpisah sejak dia masih SD. Perseteruan di antara orang tuanya terkadang masih terjadi dan itu cukup membuat isi kepalanya seakan mau meledak. Ditambah dengan tuntutan ekspektasi tinggi capaiannya di sekolah.

EN tinggal bersama sang ibu di salah satu daerah di Jember. Saat ibunya memutuskan menikah kembali, hatinya bertambah gundah. Dia kerap merasa kesepian. Dia kemudian memutuskan tinggal sendiri di rumah dan tak mau ikut ibu dan ayah tiri. Satu bulan seorang diri, ada banyak hal yang dia lalui. Sebelum akhirnya sang ibu kembali membersamainya karena bercerai.

Saat itu, EN tetap berteman akrab dengan salah satu anak perempuan yang tak lagi sekolah. Kenyamanan dirasakan kala itu. Tanpa sadar, EN sudah masuk ke dalam lingkaran kenakalan remaja hingga masuk dalam pergaulan yang tak layak baginya. Ketika merasa stres, rokok dan minum adalah pelariannya. “Saya tidak berpikir dan tidak tahu efek jangka panjangnya. Ternyata hal itu sangat-sangat salah,” sesalnya.

Kebiasaan itu terus berlangsung tanpa sepengetahuan sang ibu. Sepulang sekolah, ketika ditinggal bekerja, EN biasanya berkumpul dengan teman-temannya untuk nongkrong di sebuah base camp. Sampai akhirnya berpacaran dengan seorang teman laki-laki di antara mereka. Usia pacarnya lima tahun lebih tua dari EN. Perhatian yang diberikan membuatnya luluh bak merindukan kehadiran sang ayah. “Saya melakukan hubungan seksual dengannya saat kelas 3 SMP,” ungkap EN lirih.

Diakuinya, saat pertama kali melakukan itu, dia dipaksa dan tak berdaya. Dia merasa menyesal dan menangis sejadi-jadinya di hadapan kawan perempuannya.

Waktu berlalu. Setelah ujian nasional, EN bak mulai memasuki babak baru dalam hidupnya. Dia tak pernah tahu bahwa dirinya hamil. Dia tak menyadari sebelumnya, karena menstruasi dialaminya setiap bulan. Perawakan tubuhnya yang berisi membuat perutnya seakan tak mengalami perubahan apa pun. Bahkan jatuh berkali-kali juga tidak terjadi pendarahan atau sekadar merasakan sakit.

Saat lahiran, tubuh EN duduk mengeram kesakitan di atas kloset. Tangisan bayi mengagetkan sang ibu yang berada di dalam kamar tidur. EN seperti ada di awang-awang. Pandangan kosong dan tak memahami apa yang baru saja terjadi. Dia hanya bisa diam, meski berkali-kali dihujani pertanyaan oleh sang ibu.

Setelah kejadian itu, EN juga sempat mendapatkan penanganan nakes. Namun, sang ibu masih bertanya-tanya, siapakah bapak dari cucu yang baru dilahirkan itu. EN pun buka suara. Dengan berbagai perdebatan, satu bulan kemudian EN dinikahkan secara siri. Dia pun putus sekolah. Dikiranya, semua akan baik-baik saja, tapi ternyata salah.

EN yang saat melahirkan berusia 16 tahun mendapatkan kekerasan secara psikologis. Dia dan putri kecilnya ditelantarkan oleh suami, juga mertuanya. Cerita pernikahan itu akhirnya berujung perceraian.

Tak berselang lama, EN menikah kembali. Akan tetapi, perkawinan itu kembali dilakukan secara siri karena masih dalam usia anak. Pengetahuannya tentang kesehatan reproduksi tak dimiliki sama sekali. EN kemudian hamil lagi dan melahirkan saat usia kandungannya masih enam bulan. Bayi keduanya tak bisa diselamatkan.

Atas perjalanan hidup itu, ada banyak pelajaran yang membuatnya sadar. Dia mengungkapkan penyesalannya. “Jangan gegabah, pikir dulu sebelum melakukan. Tahan hawa nafsu jika ingin bebas, karena dampaknya ke masa depan,” pesannya untuk semua remaja di Jember.

Dulu, EN bercita-cita ingin sekolah di SMK tata boga dan menjadi chef besar. Sekarang, impiannya itu harus terpendam dalam-dalam. Keinginan untuk melanjutkan sekolah sekarang tidak memungkinkan lagi. Fokusnya berganti pada masa depan sang putri. Di tangannya, EN ingin menjaga dan mendidik agar kelak jalan yang dilalui tidak seperti dirinya.

Kini, hari-harinya disibukkan dengan mengurus sang putri dan bersama suami menopang perekonomian. Setiap bulan rajin ke posyandu balita dan belajar parenting secara autodidak dari sosial media. Banting tulang berjualan kue keliling kompleks sembari menerima orderan. Dunia remajanya telah hilang sebelum waktunya. Di usianya yang masih anak-anak, dia harus menjadi dewasa.

Sementara itu, EF, orang tua EN, mengaku dirinya lepas kontrol saat mengasuh putri bungsunya. Sebab, saat itu dia lebih fokus mencari nafkah dan mempercayakan sepenuhnya pendidikan EN ke sekolah. Selain rindu perhatian dan kasih sayang ayah, diakuinya EN mencari tempat curhat kepada teman yang bisa mendengar. Tapi, ternyata teman cerita yang dipercayainya salah. “Semoga ini tidak terjadi lagi kepada anak-anak yang lain,” harapnya.

Inilah cerita perkawinan usia anak (PUA) dan kenakalan remaja yang nyata adanya di Jember. Data yang sering ditunjukkan oleh pemkab tidaklah sekadar angka belaka. Banyak kisah serupa atau berbeda yang ada di baliknya. Hal ini selayaknya menjadi pelajaran berharga bagi semua orang tua dan anak di Kota Suwar-Suwir ini. Peran orang tua sangat penting dan perkawinan anak bukanlah pilihan yang bijak. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#pernikahan dini #pergaulan bebas