Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dari Barang Bekas Jadi Kostum Mewah ala Wali Siswa di Ajung Jember

Radar Digital • Jumat, 18 Agustus 2023 | 17:40 WIB

TAMPIL PERCAYA DIRI: Siswa TK KB Al Ridho Ajung berjalan bak talent JFC memeragakan kostum buatan orang tuanya yang terbuat dari barang bekas.
TAMPIL PERCAYA DIRI: Siswa TK KB Al Ridho Ajung berjalan bak talent JFC memeragakan kostum buatan orang tuanya yang terbuat dari barang bekas.
 

 

 Hanya dari barang bekas, bisa tercipta kostum karnaval berharga ratusan ribu rupiah. Tentu saja ini berkat keahlian yang mampu mengombinasikan barang bekas hingga menjadi karya yang cantik.

 

Barang bekas sudah tidak asing akan berakhir di tempat sampah. Tapi, tidak sedikit juga yang tercecer di jalan, pojok bangunan, selokan, sungai, bahkan di tempat-tempat publik. Sampah menjadi limbah yang dianggap menjijikkan dan barang tak berguna bagi sebagian orang.

Berbeda dengan wali murid yang menyulap sampah menjadi kostum karnaval mewah. Ratusan wali siswa baru diminta memanfaatkan barang-barang bekas di sekelilingnya untuk menjadi busana. Kostum itu pun menjadi ala JFC. Kostum dipakaikan kepada anak saat masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), belum lama ini.

Sudah tahun kedua program tersebut berjalan. Para orang tua antusias menyiapkan kostum dengan kreativitas masing-masing. Memanfaatkan berbagai limbah. Mulai dari daun-daunan, ranting tanaman, kulit jagung, koran, sedotan, hingga botol bekas. “Ini bisa mengurangi limbah di masyarakat, memberi tahu bahwa sampah juga bermanfaat dan bisa jadi barang lebih berharga serta menghasilkan,” tutur Kepala TK KB Al Ridho Ajung Abdurrohim.

Kostum buatan tangan wali siswa dilombakan dalam karnaval kecil-kecilan. Anak-anak mengenakan kostum yang dibuat orang tuanya dan tampil di catwalk yang disediakan. Pria 37 tahun itu mengatakan, agenda tersebut menjadi tempat untuk melihat sejauh mana kemampuan anak tampil di muka umum.

Rasa percaya diri anak dilatih dan dinilai. Sehingga menjadi bahan evaluasi sekolah untuk mendampingi anak yang membutuhkan adaptasi lebih dengan cara khusus. Pada saat pembelajaran berlangsung, dampingan tambahan di kelas bisa lebih dimaksimalkan lagi.

Di lain hal, kerja sama orang tua dengan pihak sekolah dengan memberikan kesempatan dalam pembuatan kostum. Bagaimana kontribusi dan kesungguhan orang tua dalam terlibat mendidik anak. “Sengaja saya ajari wali murid supaya punya penghasilan dari bahan tersebut,” sambungnya.

Kostum dilombakan dan diambil sepuluh besar. Juri didatangkan langsung dari pihak JFC dan salah satu guru TK di Jember. Karena pelaksanaannya bertepatan dengan momen agustusan dan karnaval, pihaknya memberikan pandangan kepada wali siswa bahwa kostum yang sudah dibuat bisa disewakan. “Bisa kembali modal. Sekarang banyak yang sudah inden untuk sewa,” terang pria kelahiran Tempurejo itu.

Jember tetaplah Kota Karnaval. Agustus menjadi momen yang pas untuk menggelar karnaval. Di tingkat kabupaten, kecamatan, desa, atau bahkan sekolah sekalipun. Kostum yang sudah dirancang wali siswa itu tak akan tergeletak dan berguna sekali pakai. Bahkan, kata Rohim, ada orang yang berminat membelinya dengan harga Rp 600 ribu untuk satu kostum. Namun, wali siswa lebih memilih menyewakannya. Meski karya terbuat dari barang bekas, namun mengagumkan dan bisa dipakai hingga terlihat elegan. (sil/c2/nur)

Editor : Radar Digital
#barang bekas bernilai jual #JFC 2023