MAKKAH, Radar Jember - Kabar duka datang dari jemaah haji Jember di Tanah Suci, Makkah. Warga asal Jalan Raya Kawi RT 013 RW 02 Jenggawah, Titin Ningati Supono, 65, dinyatakan meninggal dunia, Sabtu (24/6) malam, akibat sakit diabetes yang dideritanya. Pemakaman sudah dilakukan pagi kemarin (25/6) bersama jenazah lainnya dari berbagai negara.
Ketua kelompok terbang (kloter) 56, Mulyadi, melaporkan, Titin adalah salah satu anggota kloternya yang sudah sakit beberapa hari sebelumnya. Satu hari sebelum meninggal, kata dia, Titin sempat sehat kembali. Sabtu sore kembali drop di kamar hotel dengan sesak yang dirasakan. Tak lama Titin dirujuk ke RS King Faisal Makkah untuk mendapatkan penanganan. Namun, pukul 21.05 waktu setempat, Titin tak bisa tertolong dan mengembuskan napas terakhir di hadapan suaminya, Abdullah.
Jenazah disalatkan seusai salat Subuh berjemaah di Masjidil Haram oleh ribuan jemaah lain. Sang suami mendampingi sejak dari rumah sakit sampai prosesi pemakaman. Mulyadi mengungkapkan, Abdullah sudah ikhlas dan menerima dengan lapang kepergian sang istri. “Ibu (Titin, Red) ingin ke Masjidil Haram setelah melaksanakan umrah wajib, karena sakit, ditunda. Pada akhirnya ke Haram untuk terakhir kalinya, disalati ribuan jemaah salat Subuh di Masjidil Haram Makkah,” tutur Mulyadi kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.
Setelah disalatkan, jenazah Titin langsung dikebumikan di Pemakaman Sharaya Makkah bersama jenazah jemaah haji lain. Puncak haji belum dilaksanakan, sehingga ibadah haji almarhumah Titin akan dibadalkan (diwakilkan) oleh pihak Kemenag. “Almarhumah dibadalkan hajinya,” ucapnya.
Abdullah, kata dia, akan tetap melanjutkan seluruh rangkaian haji sampai selesai tanpa didampingi istri lagi. Puncak haji mulai dilaksanakan besok (27/6). Pagi ini (25/6), pukul 07.00 waktu setempat, seluruh jemaah haji berangkat menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf keesokan harinya.
Prof Aminullah, salah satu jemaah haji kloter 56, mengatakan, suasana lalu lintas di sekitar hotel-hotel jemaah haji di kawasan Raudhah sejak kemarin terpantau relatif lancar dengan intensitas padat. Menjelang puncak haji, fasilitas transportasi publik menuju Masjidil Haram yang biasa diakses gratis oleh jemaah operasinya dihentikan sementara. Dari 24 Juni sampai 1 Juli. “Jemaah yang ingin salat berjemaah ke Masjidil Haram biasanya menyewa mobil kecil seperti taksi dengan biaya sendiri,” terangnya.
Beberapa rombongan jemaah yang mengikuti program Tarwiyah berangkat mendahului jemaah lain menuju Mina, petang kemarin, untuk bermalam hingga pelaksanaan wukuf. Prof Amin menyebut, rombongan jemaahnya, Ar-Raudhah Universitas Muhammadiyah Jember salah satunya. “Jemaah yang ikut program Tarwiyah nanti akan bergabung dengan jemaah lain pada hari Selasa di Arafah, di tenda yang sama berdasarkan kloter masing-masing untuk bersama mengikuti wukuf,” jelas Prof Amin.
Hal yang sama juga dituturkan oleh Honest Dody Molasy, jemaah haji kloter 68 dari KBIH Bismika yang juga mengikuti program Tarwiyah. Dikatakan, pelaksanaan tersebut merupakan sunah Nabi Muhammad yang dilakukan dengan bermalam sebelum terbitnya matahari pada 9 Dzulhijjah atau bertepatan pada 27 Juni. “Di sana (Mina, Red) jemaah akan melakukan perenungan, doa, zikir, termasuk menunaikan salat fardu,” papar Dody. (sil/c2/nur)
Editor : Ivona