BACA JUGA : Pemerintah Kabupaten HSS Berikan Fasilitas Seragam bagi Jamaah Calon Haji
Penertiban balap liar yang dilakukan Polsek Sumberbaru tersebut berada di sepanjang jalan nasional yang menghubungkan Lumajang dengan Jember, tepatnya di Dusun Sadengan, Desa Rowotengah, Kecamatan Sumberbaru, atau disebut Jalan Nasional Sungai Bondoyudo. Ternyata aksi balap liar tersebut dilakukan setiap Jumat, malam Sabtu.
Kapolsek Sumberbaru AKP Facthur Rahman mengatakan, aksi balap liar hampir ada di setiap daerah, termasuk di perdesaan. Pihaknya telah mendapatkan laporan dari warga, sehingga lakukan penertiban. “Setelah meminta keterangan pelaku balap liar, di Sumberbaru dilakukan pada malam hari, yaitu Jumat malam Sabtu,” paparnya.
Sebanyak 18 motor yang diamankan itu rata-rata sudah tidak standar lagi, alias protolan. Mereka melakukan aksinya pada jam rawan, karena masih banyak kendaraan yang melintas di jalan nasional Jember–Lumajang tersebut. Dia menjelaskan, aksi balap liar tersebut sangat membahayakan, apalagi dilakukan di jalan nasional. “Mereka melakukan aksi balapan liar di jalan nasional yang padat dengan kendaraan besar. Apalagi di jalur yang digunakan balap liar itu kondisi jalannya juga gelap. Sehingga sangat rawan terjadi kecelakaan,” kata mantan kapolsek Semboro itu.
Menurut Kapolsek Sumberbaru, pelaku balap liar itu tidak jera. Padahal beberapa bulan sebelumnya sudah pernah dilakukan penertiban. “Pernah kami mengamankan 89 unit sepeda motor yang digunakan untuk balapan liar. Setiap kami amankan motor balap liar, langsung dilimpahkan ke bagian pelanggaran Satlantas Polres Jember,” ungkapnya.
Dari 18 motor yang berhasil diamankan, diketahui surat-suratnya tidak lengkap. “Jadi, tidak hanya protolan, tapi juga ada yang tidak dilengkapi STNK. Semua unit kendaraan yang berhasil kami amankan dilimpahkan ke Satlantas Polres Jember,” terangnya.
Warga di sepanjang jalan yang dijadikan lokasi balap liar itu mengaku resah. “Semoga ke depan tidak ada lagi. Tapi, biasanya setelah dilakukan penertiban, satu minggu ke depan sepi. Namun, setelah beberapa minggu tidak ada balap liar, biasanya muncul kembali,” kata Radit, warga setempat. (jum/c2/dwi)
Editor : Safitri