BACA JUGA : Tamara Adi Handayani, Duta Budaya Jatim Gencar Kenalkan Kebudayaan Jember
Salah satu pegiat sejarah Jember, Yohanes Setyo Hadi, mengatakan, Situs Duplang dapat digolongkan sebagai peninggalan kebudayaan zaman megalitikum. Megalitikum dimengerti sebagai kebudayaan batu besar, yaitu pada masa tersebut manusia memanfaatkan batu-batuan besar untuk kehidupan sehari-harinya.
Dia menjelaskan, tidak semua daerah memiliki peninggalan batuan megalitikum. Sementara di Jember menjadi daerah yang memiliki berbagai jenis batuan dari era megalitikum. Lokasi yang paling banyak ditemukan batu megalitikum adalah Situs Duplang. “Situs Duplang menjadi tempat terbanyak ditemukannya peninggalan kebudayaan megalitikum di Jember,” ucapnya.
Selanjutnya, dari hasil penelitian karbon yang dilakukan pada tahun 1997, terdapat temuan sisa pembakaran hasil ekskavasi di dekat batu dolmen di Situs Duplang. Artinya, kata dia, memberi petunjuk bahwa usia batu di Situs Duplang berkisar abad 13 Masehi sampai 15 Masehi.
Pegiat sejarah dari Boemi Poeger Persada juga menambahkan, penelusuran temuan-temuan bersejarah di Jember juga dilakukan bersama dengan kalangan akademisi di beberapa kampus dan Pemerintah Kabupaten Jember. Selain itu, dilakukan upaya penyelamatan dan pelestarian, serta pemanfaatan untuk studi maupun wisata.
Sementara itu, warga Desa Kamal, Kusnadi, menyebut, Situs Duplang menjadi kebanggaan tersendiri bagi desanya. Bahkan, di depan balai desa terdapat batu kenong. Saat ini warga Desa Kamal mengerti dan telah teredukasi, bila menemukan batu di sawah ataupun di aliran sungai, tidak langsung dibongkar atau dirusak. Sebab, beberapa batu purbakala masih banyak di Desa Kamal. Dia berharap Situs Duplang menjadi lokasi wisata edukasi dan penelitian. Sebab, semakin banyak masyarakat luar datang ke desanya akan membangkitkan perekonomian desa.
Warga lainnya, Abdurrahim atau sering disapa mbah Darman, menyebut, Situs Duplang terdiri atas beberapa batu. Mulai dari menhir, dolmen atau kubur batu, hingga batu kenong.
Dia berharap agar Situs Duplang menjadi museum terbuka di desanya. “Situs Duplang terdapat empat jenis batu prasejarah. Yakni menhir, dolmen atau kubur batu, batu kenong kembar, dan kenong tunggal,” kata Darman.
Menurutnya, ada perbedaan antara batu prasejarah dengan batu alam. “Batu alam itu walaupun besar bobotnya ringan, sedangkan batu prasejarah walaupun kecil tapi bobotnya berat,” imbuhnya.
Lebih jauh, Darman mengungkap, masing-masing batu memiliki keunikan tersendiri. Paling unik batu kenong kembar. Terdapat dua tonjolan pada bagian atasnya. (mg1/c2/dwi)
Editor : Safitri