Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sering Dimarahi, Tetap Menolong Tanpa Pamrih

Maulana Ijal • Senin, 1 Mei 2023 | 16:30 WIB
PENYELAMAT: Muhammad Juanda dan Imam Syafi’i, penyelamat warga yang terseret ombak saat libur Lebaran di Pantai Payangan Jember.
PENYELAMAT: Muhammad Juanda dan Imam Syafi’i, penyelamat warga yang terseret ombak saat libur Lebaran di Pantai Payangan Jember.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - DUA pria yang masih sekeluarga sempat viral setelah melakukan aksi heroik. Muhammad Juanda dan Imam Syafi’i tanpa pikir panjang langsung beraksi menyelamatkan sejumlah orang yang terseret ombak saat liburan. Itu terjadi di Pantai Payangan, Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Ambulu, Selasa (25/4).

https://radarjember.jawapos.com/berita-jember/01/05/2023/liburan-berubah-jadi-petaka-lokasi-wisata-jadi-tempat-pencabut-nyawa/

Juanda dan Imam viral karena aksi heroiknya terekam video amatir warga. Keduanya terlihat membawa pelampung dan melemparkannya ke laut. Selanjutnya, melompat ke laut dengan membawa papan selancar demi menyelamatkan para korban yang terseret ombak ke tengah lautan.

Saat insiden terjadi, warga yang liburan di Pantai Payangan hanya menyaksikan tiga dari empat orang yang terseret ombak. Satu orang dinyatakan hilang atas nama Dony Prasetyo, 18, warga Dusun Sukmoilang, Desa Pace, Kecamatan Silo. Sedangkan tiga warga lain berhasil diselamatkan. Masing-masing adalah Fitria, 17, dan Putri Nailatul, 13, yang berasal sama dengan korban hilang, serta Ahmad Dani Al Amin, 17, warga Desa Gambiran, Kecamatan Kalisat.

Pada saat itu, Juanda langsung refleks dan mengambil pelampung. Ia berlari dengan pelampung yang dibawa dan mengejar korban lewat bebatuan besar di pinggir pantai. Ketika melihat korban terseret ke tengah, Juanda melemparkan pelampung ke laut dan langsung melompat. Saat itu, kaki kanannya sempat terjebak batu karang, namun dirinya tetap memaksa untuk berenang menuju korban. Selain Juanda, ada juga yang ikut menyelamatkan tiga korban, yakni Imam Syafi’i, yang tak lain adalah paman Juanda.

Menurut Juanda, pengunjung yang datang sebenarnya sudah dilarang mandi di laut. Bahkan sudah sering dipasang papan imbauan. Pengunjung yang datang ada yang ngeyel mandi di laut dan ada yang hanya datang untuk menikmati indah pantai bersama keluarga. Selain itu, ketika ada relawan yang mengingatkan untuk tidak mandi, ada pula warga yang langsung marah-marah.

Pantai Payangan selama ini cukup terkenal angker. Itu karena hampir setiap liburan ada saja korban yang terseret ombak. Ada yang meninggal dan ada yang selamat. “Terutama pengunjung yang nekat mandi. Kalau hanya duduk di pinggir pantai mungkin selamat. Yang menjadi korban itu orang yang ngeyel atau nekat mandi,” kata Juanda, penyelamat tiga korban selamat.

Dia mengaku cukup sakit hati mendengar perkataan warga yang menyebut tidak ada pertolongan terhadap korban. Padahal, dia dan pamannya sudah berupaya keras meski hanya sebagai relawan. “Ketika ada video viral yang menyebutkan tidak ada pertolongan, itu saya yang menyesal. Terus, siapa yang menolong hingga selamat. Ada juga yang bilang kalau di lokasi tidak ada petugas atau relawan yang jaga. Padahal setiap ada pengunjung yang mandi sudah dilarang karena laut itu bukan tempat mandi,” kata Juanda.

Dikatakan, ketika dirinya berlari ke laut sambil membawa pelampung, hanya ada tiga warga yang terlihat terseret ombak ke tengah. Siapa yang mengira, setelah menyelamatkan tiga orang, ada satu korban yang dari awal sudah tidak terlihat dan hilang. “Itu yang membuat saya menyesal, karena ada satu korban yang dan tidak bisa tertolong. Saya bersama paman benar-benar tidak tahu kalau ada satu lagi yang terseret,” jelasnya.

Dikatakan, dirinya menolong orang yang terseret di Pantai Payangan karena merasa terpanggil. “Saya tidak mencari nama dan ingin terkenal, karena rumah saya berada di sekitar pantai. Saya dan paman sudah sering memberikan pertolongan pengunjung yang menjadi korban. Kebetulan orang tua saya (Pak Syam, Red) juga sering menolong orang yang terseret ombak,” jelasnya.

Selain Juanda, orang yang menyelamatkan tiga korban itu yakni Imam Syafi’i, 45. Pria itu adalah paman Juanda. Saat itu, dia langsung berlari membawa papan selancar begitu mengetahui ada orang terseret ombak.

Papan selancar itu diambil di belakang warungnya. Imam langsung terjun untuk menyelamatkan korban. “Alhamdulillah, ketiganya berhasil diselamatkan dan diamankan ke tepi pantai. Selanjutnya, ketiga korban dilarikan ke IGD puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan,” ucapnya.

Menurutnya, setiap pengunjung yang datang sudah diingatkan agar tidak mandi di pantai. Tetapi, orang yang melarang terkadang justru mendapat perlawanan dari orang pengunjung. Papan imbauan di sekitar lokasi juga sering diabaikan meskipun imbauan itu dipasang di tempat yang mudah dilihat.

Memang ada pengunjung yang sulit diatur. Para relawan maupun petugas kepolisian yang ada di lokasi sebenarnya sudah memberikan arahan dan imbauan dengan bendera dan peluit. Namun, ada saja pengunjung yang tak menggubris imbauan tersebut.

Imam menyebut, sebelum tragedi yang terjadi pada 25 April 2023 itu, dirinya ada di pinggir pantai. Sebelum kejadian, dia pulang ke rumahnya karena jaraknya cukup dekat. Begitu sampai di rumah, tiba-tiba terdengar ada orang yang terseret ombak. “Saya langsung kembali ke pantai membawa papan selancar. Sambil berlari di pinggir Gunung Sruni dan menuju korban yang sudah terseret ombak ke tengah,” katanya.

Dia menyebut, tiga korban bisa berpegangan pada pelampung dan papan yang dilempar. Selanjutnya, korban ditarik bersama keponakannya, Juanda. “Saya sebenarnya menyesal ketika ada video yang viral di media sosial kalau di pantai tidak ada pengamanan. Pantai itu bukan untuk tempat mandi, tetapi untuk dinikmati pemandangan alamnya,” kata Imam.

Pantai Payangan ini memang menjadi jujukan pengunjung ketika liburan. Baik liburan pada akhir pekan maupun hari besar seperti tahun baru, liburan sekolah, dan libur hari raya. Pantai Payangan juga merupakan tempat wisata gratis tanpa tiket dan pengunjung hanya membayar parkir. Nah, saat hari libur itulah banyak orang yang nekat mandi meski sudah dilarang. “Yang paling sering itu (orang terseret ombak, Red) yang berdekatan dengan Gunung Sruni, dan di lokasi itu memang sering memakan korban. Baik yang ditemukan selamat maupun meninggal,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Agus Roni Setiawan, 25, kakak Doni Prasetya yang dinyatakan hilang. Menurutnya, tiga korban itu selamat setelah dua relawan menolong ketiganya dengan pelampung dan papan selancar. “Saya berterima kasih karena tiga nyawa sudah terselamatkan, mudah-mudahan satu korban yang belum ditemukan, secepatnya ditemukan,” jelas Agus. (c2/nur) Editor : Maulana Ijal
#Headline #Wisatawan Tenggelam #relawan #Pantai Payangan