BACA JUGA : Sepeda Motor vs Pikap, Pelajar di Lumajang Meninggal dengan Kepala Pecah
Perubahan arus lalin satu arah itu diberlakukan untuk seluruh jenis kendaraan dari arah selatan Jalan Letjen Suprapto. Penerapan satu arah berlaku satu jam saja, pada pukul 06.30 hingga pukul 07.30. Uji coba itu akan terus dilangsungkan setiap hari.
Para orang tua yang mengantar putra-putrinya ke sekolah, kemarin, cukup terkejut. Terutama orang tua yang mengantar anak untuk bersekolah di sekitar Jalan Letjen Suprapto. Di jalan itu memang ada beberapa lembaga pendidikan negeri dan swasta.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, orang tua yang membonceng putra-putrinya dari Jalan Letjen Panjaitan, harus balik arah melihat jalan menuju Letjen Suprapto ditutup. Mayoritas kemudian memutar melewati Jalan Pajajaran, Sumbersari.
Para orang tua dari arah Jalan A. Yani yang mau mengantar anaknya ke SMPN 11 Jember juga dibikin bingung. Sebab, mereka memang belum tahu kalau ada perubahan arus lalin satu arah untuk kendaraan dari selatan saja. “Saya belum tahu. Jadi, tetap ke sini. Maunya lewat sini, tetapi harus cari jalan lain,” kata warga yang hendak mengantar putranya sekolah.
Apalagi lagi waktu sudah mepet, jika harus memutar lewat Jalan Pajajaran, mereka tetap terlambat. Padahal jika lurus bisa lebih cepat dan tidak terlambat. Karena itu, warga yang biasa melintasi jalan itu setiap pagi mengantar anaknya menjadi bingung.
Sementara itu, sebagian besar pengendara dari arah utara tetap berusaha untuk melintasi jalan setempat. Meskipun ada dua rambu larangan melintas dengan tulisan besar. Tapi, mereka tetap harus balik kanan. Petugas di lokasi pun mengarahkan untuk putar balik.
Bahkan terlihat seorang ibu yang mau mengantar anaknya ke sekolah swasta di seputaran Hotel Sulawesi harus menurunkan putranya di lampu merah. Siswa itu selanjutnya berjalan kaki menuju sekolahnya.
Di lokasi juga banyak pengendara roda dua maupun roda empat yang memutar dan mencari jalan alternatif. Pengendara dari arah selatan Jalan Letjen Suprapto terpantau sangat leluasa. Bahkan double way sekitar lampu merah dua jalur itu khusus untuk pengendara dari arah selatan.
Sementara itu, beberapa petugas Dinas Perhubungan Jember sudah menempati setiap gang di sepanjang Jalan Letjen Suprapto. Sementara, anggota Polantas Polres Jember mengatur lalin di setiap lampu merah. Hal itu karena masih banyak pengendara yang memaksa untuk lewat.
Yuyud, warga Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Tegal Besar, mengaku setuju dengan perubahan arus satu arah. Dia menyebut, pada pagi hari jumlah kendaraan yang lewat cukup banyak. “Kendaraan dari arah selatan sering macet di lampu merah,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui, Dinas Perhubungan Jember baru-baru ini merancang skema satu arah pada ruas Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari. Rencana itu tertuang dalam flyer yang baru-baru ini disebarkan oleh Dishub Jember dan khusus hanya berlaku 1 jam, yakni efektif mulai berlaku Jumat hari ini (31/3), sedari pukul 06.30 - 07.30.
Sehingga pengguna jalan dari arah selatan bisa leluasa menggunakan jalan tersebut. Sementara itu, para pengguna jalan dari arah sebaliknya terpaksa harus memilih opsi jalan alternatif, memutar atau menunggu satu jam hingga kembali diberlakukan normal.
Sebelumnya, Kepala Dishub Jember Agus Wijaya mengaku, pihaknya memang sengaja memberlakukan skema demikian untuk mengatur arus lalu lintas agar lebih lancar. Menurutnya, skema itu diberlakukan karena masyarakat kerap kali mengeluhkan kemacetan di ruas jalan tersebut. "Skema ini memang berangkat dari desakan masyarakat yang menghendaki adanya kelancaran lalu lintas dari arah utara ke selatan, ataupun selatan ke utara," katanya ketika dikonfirmasi, Rabu (29/3) kemarin.
Meski pengaturan hanya di jam pagi, namun pihak Dishub belum ada pengaturan atau skema saat jam sore atau jam pulang kerja. Terlepas dari itu, Agus menegaskan bahwa skema satu arah itu masih tahap percobaan. "Skema satu arah ini akan kita lihat perkembangannya, paling tidak sampai tiga bulan nanti," beber Agus.
Anggota Komisi C DPRD Jember Agusta Jaka Purwana melihat skema untuk membantu mengurai kemacetan itu cukup baik. Namun, ia mempertanyakan kajiannya. Sebab, menurutnya, kebijakan itu jelas akan merugikan kepentingan masyarakat lain yang juga memiliki hak menggunakan jalan tersebut, meskipun hanya 1 jam. "Melihat kemacetan itu tidak secara parsial, pagi kita berharap agar tidak macet, saat sore hari malah tidak dipikirkan. Karenanya, perlu ada kajian terlebih dahulu," pungkas politisi Demokrat itu. (jum/mau/c2/nur) Editor : Safitri