BACA JUGA : Insan Pers Mitra untuk meningkatkan Pelayanan kepada Masyarakat
Menurut Y. Setiyo Hadi, warga yang fokus pada sejarah Jember, usulan pembangunan dilakukan pada 1929 Masehi. Data tersebut termuat dalam berita koran berbahasa Belanda, De Indische Courant, 17 September 1929 Masehi. “Van Der Eist menyatakan bahwa urgensi atau pentingnya pembangunan saluran air minum (waterleiding) merupakan kebutuhan terbesar bagi penduduk Jember,” jelasnya.
Pria yang merupakan pengelola Boemi Poeger Persada itu menyebut, menara air didirikan untuk mengatasi masalah persediaan air yang sering kering saat terjadi kemarau. Saat itu, sekolah-sekolah, hotel Eropa, hotel Tiongkok, warga Eropa, warga Tiongkok, warga pribumi, restoran Tiongkok, asrama masyarakat Bali, bengkel-bengkel motor atau mobil, kantor pemerintah dan swasta, serta rumah sakit butuh air. Sampai sekarang bukti sejarah itu tetap ada dan berdiri kokoh.
Menurut Ismail, juru parkir (jukir) di Pasar Tanjung, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, selama dia menjadi jukir tidak pernah melihat beroperasinya menari air itu. "Saya sudah jadi juru parkir sejak tahun 90-an. Tapi, sejak awal itu saya tidak pernah tahu kalau ini beroperasi. Karena berdasarkan yang saya ketahui hanya sebatas monumen," jelasnya.
Dikatakan, berdasarkan cerita dari orang tuanya, bangunan yang megah itu merupakan peninggalan pemerintahan Belanda. Tempat itu dipergunakan sebagai perusahaan daerah air minum (PDAM). Juga sempat dipergunakan oleh Pemerintah Jember sebagai PDAM.
Meski begitu, dirinya hanya mendengarkan cerita dari orang tuanya dan belum pernah menyaksikan secara langsung sejak tahun 90-an silam. Hanya melihat beberapa kali menara air itu dilakukan perawatan berupa pengecatan untuk memperindah penampilannya. "Saya hanya pernah melihat pengecatan saja pada temboknya. Setelah itu tidak ada perawatan sekalipun," tuturnya.
Sependapat dengan Ismail, Dwi Pujianti, pedagang sayur, juga mengungkapkan hal yang sama. Bangunan yang dulunya menara air itu telah lama tidak berfungsi. Sebab, pipa di menara itu sudah berkarat dan tidak terawat. "Tidak pernah tahu kalau ini berfungsi. Malah kata orang-orang sudah lama tidak aktif sebagai menara air. Jadi, kondisinya tidak terawat," tutur perempuan berkerudung itu.
Saat ini salah satu bangunan yang megah dan kokoh itu tidak sebatas keindahan semata. Namun, juga menjadi salah satu maskot atau ikon yang ada di kota Jember. Menara air peninggalan Belanda ini menjadi heritage yang masih meninggalkan jejak berupa bangunan menjulang tinggi yang kokoh dan khas, tidak dimiliki oleh daerah lainnya. (ben/c2/nur)
Editor : Safitri