BACA JUGA : Izin Usaha Pertambangan Gunung Sadeng Jember Diobral
Saya sempat protes, mengapa harus repot sampai diantar langsung oleh Si Bos. Mbak Urfia enteng saja menjawab. Kata dia, memang begitulah selama ini dia lakukan. Koper beserta perlengkapan langsung diantar ke rumah. Tak jarang, dia antar sendiri. Sebelum ke rumah saya, dia mengatakan jika sudah mampir ke salah satu jemaah umrah yang akan berangkat sehari setelah saya.
Urusan koper dan tas bawaan memang sepele. Namun, jika tak disiapkan sesuai kebutuhan, bisa malah bikin tak nyaman. Persada rupanya jeli sekali. Selain koper besar, disiapkan koper kecil. Koper ini dibawa ke kabin pesawat diisi perlengkapan urgent maupun darurat mengantisipasi koper besar terlambat sampai ke kamar hotel. Masih ada lagi tas ransel kecil yang bisa dijinjing untuk dokumen, HP, kamera, dan pernak-pernik penting lainnya. Untuk nyelipkan sandal, tas ini juga masih lapang. Kantongnya banyak bersekat-sekat.
Ada lagi tas mirip goodie bag, tapi ukurannya lumayan besar, kokoh, dan ada ritsleting penutup. Tas inilah yang lumayan membantu saat kita hendak membawa pakaian ihram di sela-sela kegiatan city tour. Biasanya memang sepulang city tour ini travel menyediakan kesempatan untuk umrah dengan mengambil miqat yang tak jauh dari Masjidil Haram. Miqat adalah titik awal kita hendak melakukan umrah. Dari tempat itu kita harus mengenakan pakaian ihram dan segala aturan serta larangan saat menjalankan umrah berlaku. Di miqat itu pula kita merapalkan niat setelah sebelumnya salat sunah ihram. Jika terpaksa koper harus “beranak” saking banyaknya oleh-oleh untuk dibawa pulang, tas ini juga bisa jadi solusi. Bisa nggembung dan muat lumayan banyak.
Persada juga menyiapkan lembar check list barang bawaan di buku manasik. Sehingga, kita tak salah menaruh barang sesuai kebutuhan. Masing-masing koper dan tas harus diisi apa tinggal lihat di check list. Kita cukup mencentangnya, sehingga tak ada barang yang tidak perlu masuk tas.
Kejutan berikutnya saya alami saat berangkat menuju Bandara Juanda. Kami yang berangkat berlima disiapkan mobil khusus yang hanya kami penumpangnya. Ini tidak saya duga. Awalnya, saya mengira akan “dititipkan” travel yang biasa mengantar penumpang Jember–Juanda. Sebab, di jadwal keberangkatan tersebut, dari Jember hanya kami berlima. Rasanya, kecil kemungkinan akan diangkut sendiri. Lain soal jika rombongan banyak. Wajar jika disiapkan bus khusus yang diisi jemaah.
Bagi saya sebenarnya tak masalah. Yang penting sampai Juanda aman, nyaman, dan selamat. Toh, saya juga pernah punya pengalaman seperti itu. Saat berangkat umrah dengan travel ternama di Surabaya yang saat itu belum punya kantor perwakilan di Jember, saya berangkat naik travel umum. Kemudian, tinggal ketemu panitia dan jemaah lain di bandara. Tapi, malam itu kami diantar dengan kendaraan khusus yang amat nyaman, lega, dan lapang.
Pun ketika pulang, Kami dijemput dengan kendaraan sejenis. Kali ini malah lebih istimewa. Selain sangat bersih, ternyata Hiace itu masih baru. “STNK-nya belum keluar ini, Pak,’’ kata sopir yang mengantar kami.
Saya pun melongok ke speedometer mobil. Saya intip kilometernya. Walah, baru lima ribu jalan. Masih bau plastik pembungkus.
Di bandara jemaah Persada juga mendapat layanan bak sultan. Sejak penyambutan sampai masuk pesawat. Saat itu saya agak terlambat masuk ke lounge karena harus menemui mertua yang janjian ketemu di bandara sebelum berangkat. Bukannya dibuat tak nyaman agar saya segera bergegas masuk. Tapi, petugas dari Persada malah mengawal kami dan menunggu sampai ritual pamitan kami tuntas. Ketika sudah tertinggal jauh dengan rombongan lain pun kami tetap dikawal. Didampingi, bahkan ketika hendak lewat eskalator pun ada perlakuan istimewa. Jalan seperti disterilkan. Ditunggu petugas di awal hingga ujung eskalator dengan wajah yang berseri.
Saat pemeriksaan sebelum masuk lounge bandara petugas dari Persada juga terus mendampingi. Handling di bandara ketika berangkat lumayan istimewa. Perasaan kami pagi itu pun menjadi sangat nyaman. Sebelum terbang, kami tak merasakan ada sisa capek perjalanan Jember–Surabaya. Kami bisa sarapan tenang di ruang VIP. Serasa jadi orang penting hari itu. “Kayak bupati, dikawal terus,’’ celetuk Alvin, anak kedua saya.
Layanan sultan ternyata tak hanya saat di tanah air. Di Makkah dan Madinah kenyamanan jemaah Persada sangat diperhatikan. Tour leader dan muthawif betul-betul totalitas mendampingi jemaah. Dimintai tolong kapan pun mereka enteng. Hanya sekadar menemani belanja untuk menunjukkan tempat-tempat yang recommended mereka juga siap dan sigap.
Pernah saat di Madinah ada delapan orang yang terlambat masuk hotel. Akibatnya, mereka tak bisa makan malam karena restoran sudah tutup. Bukannya dibiarkan kelaparan, petugas pendamping dari Persada sigap dengan membelikan makanan dari restoran luar hotel. “Saya dan istri nggak jadi kelaparan,’’ kata Ghofar, jemaah asal Surabaya.
Ada lagi layanan yang saya baru tahu ketika sudah berada di Madinah. Persada Indonesia ternyata menyiapkan fotografer profesional yang siap mengabadikan momen-momen terbaik. Memang, ketika hendak berangkat saya melihat ada fotografer yang selalu mengabadikan setiap momen. Awalnya, saya menyangka dia hanya petugas dokumentasi biasa. Meskipun, kamera yang ditenteng cukup canggih. Mirrorless Sony A 7 II R. Kamera full frame profesional dengan lensa yang juga berkelas. Saya menduga dokumen itu pasti untuk kepentingan perusahaan saja.
Ketika sudah sampai Madinah, kembali saya menjumpai petugas dokumentasi. Beda orang tapi dengan kamera yang tak kalah canggihnya. Satu strip di atas yang dipakai petugas saat di Bandara Juanda tadi. Sony A 7 III R yang harga bekas body only masih 20 jutaan itu. Dia juga selalu mengabadikan setiap aktivitas jamaah.
Dia cekatan dan dari cara pegang kamera saja saya tahu kalau bukan fotografer sembarangan. Belakangan baru tahu bahwa Persada Indonesia memang menyiapkan fotografer khusus dan profesional. Mereka bertugas tak hanya mengabadikan momen untuk kepentingan perusahaan. Tetapi, juga kebutuhan koleksi pribadi jamaah. Bahkan, mereka siap di-booking hanya untuk memotret jemaah Persada di spot-spot menarik dan instagramable. Gratis.
Pantas saja jika foto-foto koleksi pribadi jamaah Persada bagus-bagus. Tak hanya di momen, tapi juga kualitas fotonya. Tak sedikit yang fotonya sekelas pre-wedding! (bersambung)
Editor : Safitri