BACA JUGA : Unej Kirim Tujuh Mahasiswa Mengajar di Thailand
Tetapi, pemain kesenian ini juga bisa berasal dari hobi maupun keinginan pribadi. “Karena saya lahir dari keluarga yang ada darah seninya, sehingga memilih menjadi pemain can-macanan kadduk,” katanya.
Pria yang akrab disapa Ody itu menceritakan, dirinya sudah menjadi pemain can-macanan kadduk sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Untuk menjadi pemain kesenian ini diperlukan latihan khusus. Hal itu karena sulit untuk menyamakan langkah kaki layaknya harimau yang sesungguhnya. "Jadi, tidak bisa sembarangan melangkah," ungkapnya.
Selain itu, diperlukan teknik khusus dari pemainnya. Mulai dari cara geraknya, seperti gerakan untuk memegang kepala harimau dan menggaruk punggungnya. Teknik yang lain berkaitan dengan senam kaki yang meliputi gerakan maju-mundur dan melangkah ke kanan dan kiri, sehingga bisa terlihat bagus.
Ody menjelaskan bahwa di sanggar can-macanan kadduk yang dirinya ikuti saat ini terdapat dua pemain macan yang tampil. Biasanya mereka juga diiringi pemain yang berperan sebagai monyet. Posisi antara pemain depan dan belakang tidak sama.
Pemain depan yang memegang kepala posisinya berdiri, sedangkan pemain belakang agak membungkukkan badannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika pertunjukkan, pasangan pemain harus tetap. Sebab, jika salah satu pemain diganti bisa membuat penampilan kurang maksimal. "Sering latihan juga menjadi kunci keserasian pemain," ujarnya. (mg3/c2/bud) Editor : Safitri