BACA JUGA : Tes Urine Tidak Berlaku Untuk Mahasiswa Saja
Malam itu, Agam Bayuangga bersantai dengan gawainya. Di teras depan rumahnya, riuh keceriaan anak-anak kecil yang bermain di dalam rumah terdengar. Di rumah Blok CCB ini, Agam menceritakan bahwa rumahnya juga diterjang aliran banjir. Apalagi kejadian tersebut membuat rumahnya rusak berat. Dia pun mengaku saat hujan lebat turun, dia masih trauma.
Sambil momong anak, pria empat anak itu menyebut, banjir yang menerjang lingkungannya itu terjadi pada sore hari. Saat itu hujan memang tidak turun deras. Namun, air kiriman yang membuat Sungai Semangir dekat perumahan miliknya meninggi. Selain itu, tanggul jebol membuat air di sungai itu meluap dengan cepat. “Sehabis Asar, saya yang sedang tidur, dibangunkan orang-orang. Ternyata air sudah naik semata kaki,” jelas suami Sri Yulias tersebut.
Tak memerlukan waktu lama, air tersebut naik dengan cepat. Saat itu, Agam spontan mengungsikan istri dan anak-anaknya ke rumah tetangga yang tempatnya lebih tinggi. Tak sampai setengah jam, kondisi air naik hingga sekitar 1,5 meter. “Arus aliran air sangat cepat, sehingga naiknya air pun mengikuti. Bahkan membuat tembok depan dan tembok rumah belakang hingga jebol karena tidak kuat menahan,” ucapnya.
Kontan, saat tembok bagian belakang jebol, barang-barang yang ada di rumahnya langsung berpindah tempat ke rumah tetangganya. Sebab, tembok bagian rumahnya itu berbatasan langsung dengan rumah tetangga yang lain. Mulai dari lemari baju, spring bed, kulkas, hingga sofa telah berpindah tempat.
Sekitar pukul 18.00, air yang meninggi itu berangsur surut dengan cepat. Hingga pada akhirnya hanya menyisakan lumpur, genangan air, dan kerusakan pada rumahnya serta rumah-rumah lainnya. “Tidak semua rumah di perumahan ini terkena. Tapi, hanya daerah perumahan bawah dan beberapa blok saja. Karena kondisinya perumahan bawah ini menurun dan aliran air semuanya ke arah sini,” jelasnya.
Namun, ada yang membuat bencana itu disyukuri olehnya. Sebab, dirinya menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana kepedulian antarwarga di perumahan itu terjadi. Warga perumahan atas yang tidak mengalami kebanjiran membantu dan bergotong royong membersihkan rumah warga yang terkena banjir. Selain itu, menyediakan makanan untuk mereka yang terdampak banjir, dengan bahan-bahan sederhana yang ada di rumah.
Banyak relawan pascakejadian itu berdatangan. Mulai dari yang tua hingga muda. Baik yang datang sendiri maupun bersama-sama turut mengambil bagian membantu membersihkan rumah-rumah warga yang terdampak. Salah satunya adalah rumah miliknya. “Bagaimana tidak bersyukur, istilahnya ketika tertimpa musibah, tapi ada mereka yang turut peduli dan meringankan. Bahkan ada komunitas yang full selama dua minggu membangun dapur umum dan membuatkan makanan untuk kami,” tuturnya.
Pemerintah, menurutnya, juga tidak kalah cepat dalam merespons kejadian. “Bupati Hendy Siswanto dan Wabup MB Firjaun Barlaman bahkan sempat turun tangan mengecek lokasi pascabencana banjir,” ulasnya. Bantuan logistik dan material rumah rusak pun menyusul diberikan oleh pemerintah. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga sempat datang langsung ke lokasi bencana. (c2/nur) Editor : Safitri