Mencegah kekerasan tersebut, perlu ada peran orang dewasa dalam mendampingi mereka. Terutama orang tua dan guru. Karena lingkungan yang ada di sekitar anak sangat memengaruhi bagaimana mereka bertindak dalam kesehariannya.
“Anak-anak ini biasanya terpengaruh media sosial. Mereka melihat tindakan tersebut, kemudian malah dipraktikkan. Mungkin mereka menganggap itu hal yang keren,” kata Poedji Boedi Santoso, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA), Jumat (14/10).
BACA JUGA: Kasus Kekerasan Anak di Jember Tinggi, Perlu Penanganan Serius
Peran keluarga dalam mendampingi sang anak, lanjut Boedi, adalah nomor satu. Orang tua yang kurang perhatian terhadap anaknya, menjadi awal dari perilaku kekerasan. “Jika ada pengasuhan yang baik dari ortu, mengontrol anak dalam bermedia sosial dan hidup di lingkungannya, maka tindakan tersebut tidak akan terjadi,” ucapnya.
Sekarang sudah jarang orang tua yang mengajak anaknya mengobrol. Entah itu tentang sekolah, masalah pribadi atau yang lainnya. Jadi anak cenderung memendam masalahnya, sehingga ketika sudah tidak bisa menahannya, ia akan bertindak semaunya.
Selain peran orang tua, peran guru sebagai pengganti ortu di sekolah juga sangat penting. Penanaman pendidikan karakter pada anak harus lebih diperkuat. “Diajarkan tentang bagaimana menghargai guru dan teman sebayanya, serta berperilaku sesuai lingkungannya,” ujar Boedi.
Hal tersebut dibenarkan oleh Arrumaisha Fitri, psikolog sekaligus dosen program studi psikologi Islam di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Anak, menurut dia, apalagi sudah menginjak usia remaja, cenderung akan menginginkan kebebasan dalam menjalani kesehariannya. “Meski begitu, sebenarnya mereka ini masih butuh dikontrol. Agar tidak terlalu bebas dalam bertindak,” jelasnya, saat ditemui secara terpisah.
Remaja cenderung mencari perhatian dari orang sekitarnya agar ia mendapatkan validasi. “Mereka ingin menunjukkan keberadaannya bahwa mereka bisa mandiri dan menyelesaikan masalah,” kata Arrum, sapaan akrabnya. Maka dari itu, perhatian dari orang tua sangat dibutuhkan.
Senada dengan Arrum, Boedi juga menyatakan, peran orang dewasa, terutama orang tua dan guru, adalah untuk membentuk karakter mereka. Dalam pembentukan karakter tersebut, komunikasi dengan anak adalah kunci utama. “Menjaga komunikasi dengan anak itu penting sekali. Jangan membiarkan anak begitu saja,” tambahnya.
Selain komunikasi, Arrum menambahkan, menyesuaikan dengan karakter remaja, mereka juga harus diberi kepercayaan dalam tindakannya. Namun, juga diyakinkan bahwa masih ada orang tua dan guru sebagai pendampingnya. “Orang tua dan guru harus percaya sama mereka. Tetapi juga diingatkan kalau ada masalah, mereka masih punya orang yang mendampingi,” terangnya.
Saat ini, dalam pencegahan kekerasan anak, UPTD PPA bersama Bidang PPA Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) sudah mulai aktif melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Tujuannya adalah mengedukasi pelajar agar menghindari tindak kekerasan. “Selain itu ada pembentukan satuan tugas perlindungan anak di sekolah yang sudah diinstruksikan oleh Gubernur Jawa Timur,” tandas Boedi. (*)
Ilustrasi: Maulana Ijal
Editor : Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal