Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pakai Konselor Sebaya Cegah Perundungan

Safitri • Kamis, 13 Oktober 2022 | 19:40 WIB
“Konselor sebaya bagi saya merupakan tolok ukur keberhasilan BK di sekolah.  Karena curhatnya ke sesama siswa. Sedangkan guru BK akan berperan sebagai pengidentifikasi masalah siswa.” Muhammad Muwafik Psikolog yang juga pengajar di UIN KHAS Jember
“Konselor sebaya bagi saya merupakan tolok ukur keberhasilan BK di sekolah. Karena curhatnya ke sesama siswa. Sedangkan guru BK akan berperan sebagai pengidentifikasi masalah siswa.” Muhammad Muwafik Psikolog yang juga pengajar di UIN KHAS Jember
SUMBERSARI, Radar Jember – Perundungan atau bullying sering kali menjadi salah satu penyebab awal siswa saling bertengkar. Bahkan beberapa waktu lalu ramai mencuat ke publik, akibat perundungan bisa menimbulkan aksi kekerasan hingga membuat salah satu pelajar SMK meninggal dunia pada Agustus lalu.

BACA JUGA : Siswa SD Fasih Berbahasa Asing, Senin sampai Kamis Wajib Arab-Inggris

Praktisi psikologi Jember, Muhammad Muwafik, menyampaikan, untuk dapat memutus mata rantai perundungan yang terjadi di sekolah perlu peran aktif guru bimbingan konseling (BK) agar dapat membangun kesadaran siswa. Sebab, dirinya menilai, saat ini sekolah-sekolah belum bisa menciptakan atau menjadi tempat membangun kesadaran siswa. Apalagi persepsi dari para siswa terhadap guru BK masih negatif. “Salah satu penyebabnya karena seorang konselor atau guru BK lebih banyak dominan dengan menasihati. Seharusnya konselor harus bisa memberi solusi dan muara keputusan yang diambil ada pada siswa. Bukan malah menjustifikasi permasalahan yang dialami siswa,” ungkapnya dalam acara Musyawarah Guru BK SMK Jember.

Pria yang juga sebagai dosen psikologi di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu memberikan solusi salah satu cara membangun kesadaran diri pada siswa. Yakni dengan dibentuknya konselor sebaya. Hal itu melibatkan sesama siswa atau teman sebaya untuk menyelesaikan permasalahan maupun hal lainnya yang dihadapi oleh siswa. “Konselor sebaya bagi saya merupakan tolok ukur keberhasilan BK di sekolah.  Karena curhatnya ke sesama siswa. Sedangkan guru BK akan berperan sebagai pengidentifikasi masalah siswa,” ucapnya.

Dia melanjutkan, mengidentifikasi siswa itu sejatinya mudah. Yakni dapat dilakukan dengan melihat temannya terlebih dulu. Apalagi berdasarkan teori psikologi, manusia memiliki sifat alamiah untuk berkelompok dengan yang satu frekuensi. Karena itu, siswa yang nakal rata-rata berkumpul dengan teman-temannya yang juga nakal. Begitu juga dengan anak-anak rajin yang memiliki kumpulan atau geng sesama anak rajin.

Dalam menentukan siapa yang menjadi konselor sebaya di sekolah, Muwafik menyarankan, dapat dilakukan dengan melakukan kolaborasi dengan melibatkan berbagai karakter yang ada pada siswa. Baik itu anak-anak yang nakal, rajin, bahkan pendiam. Hal itu dilakukan guna memberikan variasi dan mampu menjangkau semua karakter yang akan diberi konseling nantinya.

Selain itu, kata dia, konselor sebaya juga harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. “Banyaknya variasi konselor, dari siswa yang nakal, rajin, hingga pendiam tersebut. Nanti ada masalah di siswa yang nakal, akan bantu diatasi oleh konselor sebaya yang pernah nakal. Kalau anak yang pendiam, maka nanti bertemu dengan konselor sebaya yang juga pendiam. Karena mereka akan memahami bagaimana siswa tersebut,” tandasnya. (mg2/c2/dwi) Editor : Safitri
#Jember #Kekerasan