BACA JUGA : Siswa & Guru di Lumajang Gelar Salat Gaib untuk Korban Tragedi Kanjuruhan
Kegiatan tersebut berlangsung di aula sekolah. Puluhan siswa SMP dan SD berpartisipasi dalam pelatihan tersebut. Ada dua narasumber yang dihadirkan. Satu orang dari jurnalis koran cetak dan satu dari divisi digital Jawa Pos Radar Jember.
Selain memahami teknik jurnalistik, para peserta diharapkan juga bisa membedakan mana berita hoax dan produk jurnalistik. Melalui pembekalan materi, teori, dan praktik, peserta dibimbing langsung oleh pemateri tim redaksi Jawa Pos Radar Jember. Mulai dari materi foto jurnalistik, teknik penulisan, pengambilan video, hingga sharing pengalaman.
“Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat memberikan wawasan, memberikan ilmu, untuk para siswa kami. Saya juga memberikan apresiasi agar kegiatan ini bisa berlanjut nantinya,” ujar Lazarus Heo Manno, Kepala Pelita Hati School.
Dia berharap kepada siswanya, terlebih generasi milenial sekarang, mengerti akan visual. Sebab, menurutnya komunikasi visual melalui foto sudah menjadi komunikasi yang sangat penting.
“Arus informasi yang demikian pesat dan tidak terbendung banyak berita-berita yang tidak benar. Bahkan tidak jarang muncul berita yang tidak dikehendaki masyarakat dan akan membuat kacau suasana. Oleh karena itu, siswa kami saya harap menjadi bagian untuk mencegah berita bohong dengan mengadakan pelatihan jurnalistik,” paparnya.
Dirinya juga mengapresiasi kegiatan tersebut dari Jawa Pos Radar Jember. Pelatihan tentang dasar-dasar jurnalistik bisa diterima oleh siswa SMP. "Saya sangat mengapresiasi Jawa Pos Radar Jember yang membuat kegiatan pelatihan tentang jurnalistik. Ini sangat bagus untuk dilakukan," ucapnya. (kr/c2/bud)
Editor : Safitri