Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Di Balik Lahirnya Organisasi Kemanusiaan Sekawan

Safitri • Jumat, 16 September 2022 | 19:20 WIB
PENUH HARAP: Achmad Zaini, pendiri relawan Sekawan yang berjuang di hari tuanya untuk mendampingi pasien TB RO.
PENUH HARAP: Achmad Zaini, pendiri relawan Sekawan yang berjuang di hari tuanya untuk mendampingi pasien TB RO.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Pendampingan terhadap pasien tuberkulosis resisten obat (TB RO) terus dilakukan oleh lembaga Sekawan. Sekawan merupakan sebuah komunitas pendamping pasien TB, khususnya TB Resisten Obat (RO). Meski telah berakta notaris Kemenkumham pada tanggal 14 juli 2016, tak menjamin kemajuan Sekawan.

BACA JUGA : Iming-Imingi Daerah Rp 10 Miliar Asal Sukses Tekan Inflasi

Achmad Zaini merupakan perintis, pendiri, serta ketua dari Sekawan sejak awal terbentuk sampai saat ini. Sekawan berangkat dari kumpulan teman-teman yang memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat yang mengalami penyakit TB RO. “Kami berangkat dari jiwa sosial saja dan dari rasa kepedulian yang tinggi kepada penderita TB RO. Kami tidak digaji, tidak ada uang bensin, dan ke mana-mana memakai uang  pribadi,” jelasnya.

Sekawan bertugas untuk melakukan pendampingan, pengawasan, memberikan edukasi, informasi, dan komunikasi. Sebab, pengobatan TB RO sangat berat sekali. “Perlu pengobatan 2 tahun untuk sembuh, dan banyak sekali yang putus di tengah jalan,” ucap Zaini.

Menurutnya, jika tidak didampingi, maka penularannya akan tinggi dan angka kematian akan tinggi. Sekawan tidak hanya membantu masyarakat Jember. tapi, ia juga membantu warga di Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Banyuwangi.

Sayangnya, bentuk kepedulian yang dilakukan oleh Sekawan itu tidak didukung oleh pemerintah daerah. “Sayang sekali jika tidak ada kepedulian dari pemerintah daerah terhadap pasien dan kami selaku pendamping,” ujarnya.

Tak hanya waktu pengobatan yang lama, jumlah obat yang dikonsumsi oleh pasien bukan dalam jumlah yang sedikit. Dalam sekali minum obat, pasien harus meneguk seluruh obatnya sekaligus. “Misalnya satu pasien ada tujuh pil obat, maka tujuh obat ini harus diteguk sekaligus. Bukan diminum satu-satu,” jelasnya.

Menahan pahitnya berbagai obat itu, pasien TB RO sering kali mendapatkan kucilan dari keluarga dan tetangga sekitar. Masyarakat yang paham pasti tidak mau untuk berdekatan dengan orang penderita TB RO. “Sungguh sangat menderita, belum lagi ia tidak bisa bekerja, tidak bisa melakukan kegiatan, dikucilkan, dijauhi, dan mendapatkan perlakuan yang tak sewajarnya dari masyarakat dan keluarga,” ucapnya.

Di tengah usaha Sekawan terus mengabdi kepada pasien TB RO, perjalanannya tak semudah yang dibayangkan. Berbagai permasalahan menghambat, seperti dari sumber daya manusia (SDM) yang kurang dan pendanaan yang tidak ada.

Harapannya kepada pemda ada support pendanaan meskipun sedikit. Tidak perlu sampai ke pasien, ke pemberdayaan Sekawan itu seharusnya ada penandaan untuk operasional meskipun hanya Rp 100 ribu. “Sekarang mereka jalan karena dari rasa sosial. Karena ke mana-mana pakai uang sendiri, makanya sulit sekali mencari orang yang berkomitmen dan solid,” jelasnya.

Terlepas dari permasalahan yang ada, beruntung Sekawan terpilih menjadi tempat magang Kampus Merdeka dari Kemendikbud. Menurutnya, dengan adanya anak magang, Sekawan sangat terbantu. Di samping kendala dari sumber daya manusia Sekawan yang belum mumpuni juga terbantu. “Alhamdulillah, sangat terbantu,” jelasnya.

Ia berharap penuh kepada mahasiswa magang itu untuk bisa membawa Sekawan lebih maju dan dikenal lagi. Langkah yang dilakukan saat ini, ia membagi mahasiswa magang ke beberapa divisi. Salah satunya divisi advokasi kepada pemerintah.

Saat ini Sekawan dan anggota magangnya berusaha masuk ke pemangku kebijakan. Sebab, sampai sekarang sedikit sekali yang mengenal dan tahu tentang Sekawan. Selama lima bulan ke depan besar harapan Zaini kepada mahasiswa magang untuk bisa membantu Sekawan yang tadinya abu-abu dapat terlihat jelas. Kemarin, Zaini membawa anggota magangnya ke Dinas Kesehatan. “Alhamdulillah, direspons baik oleh Dinas Kesehatan. Ke depannya semoga bisa MoU kembali,” jelasnya. Menurutnya, mahasiswa yang magang itu bukan mereka yang baru belajar, tetapi mereka adalah orang luar biasa. (c2/nur) Editor : Safitri
#Jember