BACA JUGA : TPA Pakusari Terbakar, Warga Khawatir Api Merembet ke Perkampungan
Pemuda yang masih berusia 22 tahun tersebut menghabiskan waktunya untuk menghafal Alquran. Dia mempunyai prinsip, setiap manusia pasti bisa menghafal Alquran, selama masih ada keinginan di dalam dirinya. Seperti yang dialami dirinya. Sejak kelas 1 SMA dia mulai menghafal Alquran. Namun, tidak sampai selesai. Dia melanjutkan hafalannya pada salah satu ponpes tahfiz di Jember. Tidak lebih dua tahun, dia menuntaskan hafalan sebanyak 30 juz.
"Waktu masih SMA, saya hanya hafal tiga juz. Setelah itu, saya lanjutkan di pondok. Setiap hari, waktu saya habiskan bersama Alquran," katanya. Dia menyebut, setiap seusai salat fardu merupakan waktu yang paling sering digunakan untuk menghafalkan Alquran. Bahkan selama masih ada waktu luang, dia gunakan untuk menghafalkan Alquran.
Pada prinsipnya, dia dapat menguasai ilmu agama Islam dengan detail melalui hafalan Alquran. Hal itu juga menjadi semangat dirinya untuk tidak menyerah menghafalkan Alquran setiap hari. "Karena sumber agama Islam ada di dalam Alquran, bahkan ilmu yang ada di dunia ini juga ada di Alquran," imbuhnya.
Lambat laun, dia mulai menjiwai setiap bait per bait dari ayat Alquran. Saat ini, dia tidak mampu menarasikan betapa nikmatnya menjadi seorang tahfiz. "Kenikmatan ini sungguh luar biasa, dan hanya sesama tahfiz yang bisa merasakan," tandasnya.
Namun demikian, selama menyandang 30 juz di kepalanya, sesuatu yang paling menantang pada saat merawat hafalan tersebut. Pasalnya, merawat hafalan juga tidak kalah sulit dengan menghafal. Bahkan, ketika satu hari tidak dilakukan pengulangan, dapat berdampak pada ketidaklancaran pembacaan. "Jadi, setiap hari harus murajaah. Itu yang menjadi tantangan bagi seorang tahfiz," pungkasnya. (mun/c2/nur) Editor : Safitri